Legenda ArgentinaSepakbola tidak hanya mengundang fanatisme terhadap klub. Hampir di setiap penjuru dunia, lahir fans klub spesifik untuk pemain. Makanya jangan heran ketika mengetik nama David Beckham, Alessandro del Piero atau Ronaldinho kita akan menemukan tidak hanya satu website khusus pemain yang didesain khusus oleh kelompok fans. Di Bandung, Zaenal Arief selain menjadi pencetak gol, mungkin juga pencetak sejarah sebagai pemain Persib pertama yang memiliki fans klub khusus. Arief layak merasa istimewa, karena fans klub membantunya terus mencetak gol untuk Persib.
Sejarah fans pemain mencatatkan puncaknya ketika segelintir pemuja Diego Armando Maradona mendirikan Gereja Maradona, atau dalam bahasa setempat Iglesia Maradoniana. Kabarnya, kini penganut 'agama' Maradona ini telah mencapai angka 15.000 orang di seluruh dunia. Berawal dari sebuah ide di kota Rosario, 30 Oktober 1998, mereka mengukuhkan ajaran ini. Tanggal tersebut pun tentu dianggap sakral karena merupakan kelahiran sang dewa. Perkembangannya pun menjadi kompleks. Mereka memiliki kitab suci, yaitu buku biografi Maradona, dan '10 Perintah Tuhan' ala mereka sendiri. Salah satu perintah tersebut adalah keharusan untuk mencantumkan nama Diego kepada anak-anak mereka.
Belum lengkap dengan dua perangkat tadi, anggota Persudaraan Diego (Diegorian Brothers) ini juga menganggap mereka yang membantu karir Maradona dianggap sebagai orang suci, dan tentunya kebalikannya bagi mereka yang menghujat karir sang Dewa. Iglesia Maradoniana juga mengenal penanggalan sendiri yang dimulai dari tahun 1960, ketika sang legenda lahir. Jadi, tahun 2007 awal masih masuk dalam 46 AD, After Diego.
Pengkultusan Maradona bukan tanpa sebab. Gol Tangan Tuhan dari Maradona ketika menaklukan Inggris di Piala Dunia 1986, merupakan momen yang dianggap para Diegorian Brothers sebagai hari pentahbisan Maradona menjadi Tuhan, atau dewa. Di Amerika Latin, khususnya Argentina, kemenangan ini memiliki memang memiliki arti yang mendalam. Pertama, Maradona menaklukan Inggris, bangsa yang begitu sombongnya mendeklarasikan diri sebagai asal dari sepakbola. Keangkuhan Inggris ini ditambah panasnya kondisi politik Argentina-Inggris ketika itu. Kedua, Maradona membuktikan bahwa postur tubuh bangsa Amerika Latin yang tidak sebanding dengan Eropa bukan halangan untuk berprestasi. Tubuh mungil Maradona malahan menunjukkan potensi sepakbola yang jauh lebih menarik, tidak sekedar kick and rush ala Inggris . Oya, gol Tangan Tuhan, Hand of God, akhirnya diabadikan menjadi nama kapel tempat ibadah Iglesia Maradoniana.
Nomor punggung 10 milik Maradona-pun dianggap lebih dari sekedar angka belaka. Diego 10's, nomor sepuluh Maradona, jika diutak-atik akan jadi D10S, dios, dalam bahasa Spanyol berarti Tuhan. Terdengar berlebihan memang, ya? Tapi, para penganut Iglesia Maradoniana ini mengaku masih memiliki ketaatan pada agama asli masing-masing. Bagi mereka, agama dengan Tuhan yang asli merupakan bagian dari realitas, sementara Maradona adalah interpretasi dari hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar