Selasa, 18 Desember 2007

Tentang PSSI


Football Legends" MemukauINDONESIA

Jakarta, Kompas - Kualitas teknis para mantan pemain sepak bola profesional dunia yang tergabung dalam tim football legends masih mampu mengundang tepuk tangan sekitar 10.000 penonton yang menyaksikan pertandingan amal mereka melawan tim Indonesia All Stars di Gelora Bung Karno, Senayan, Selasa (1/3). Meskipun sebagian pemainnya telah dimakan usia, Carlos Dunga dan kawan-kawan berhasil mengungguli Indonesia All Stars yang diperkuat para pemain dan mantan pemain nasional Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand, dengan angka 4-3 (2-1).

Acara ini sedianya dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, Presiden akhirnya batal hadir.

Tiga dari empat gol tim legenda sepak bola itu dicetak mantan pemain Liverpool, Mark Walters, satu di antaranya dari titik penalti. Satu gol lagi diciptakan lewat tendangan terarah mantan play maker tim nasional Bolivia, Marco "El Diablo" Etcheverri.

Gol pertama Indonesia All Stars dicetak oleh gelandang Syamsul Bachri di babak pertama. Mantan bintang Thailand Piyapong Pue On mencetak satu gol di babak kedua, dan Widodo Cahyono Putro mencetak gol ketiga lewat tendangan voli.

Dengan dipimpin oleh Dunga, kapten tim Brasil saat menjadi juara dunia 1994, para pemain yang mencapai masa jayanya di dekade 1980-an dan 1990-an ini menunjukkan penguasaan bola yang prima. Meskipun tempo permainan berjalan lambat, aliran bola berjalan lancar.

Etcheverri memainkan perannya sebagai pengatur serangan dengan baik, didukung pergerakan lincah Walters di kiri dan pemain Brasil Osmar Donizete di kanan. Walters, yang berusia 41 tahun, berkali-kali melewati penjagaan bek asal Malaysia Zainal Abidin Hassan. Begitu pula Donizete sering kali lepas dari pengawalan bek timnas yang usianya jauh lebih muda, Hamka Hamza.

Di sisi lain, Kurniawan Dwi Yulianto dan Ilham Jaya Kesuma beberapa kali mengancam gawang Luis Islas. Namun, pengalaman Julio Olarticochea dan kawan-kawan mampu menutup daerah penalti dari serbuan pemain Indonesia.

Rasa salut terhadap penampilan pemain-pemain football legends ini disampaikan pula oleh mantan pemain nasional Indonesia Ricky Yacobi. "Di luar dugaan, mereka masih cukup bagus," komentarnya.

Menurut Ricky, masih baiknya penampilan Careca dan kawan-kawan berawal dari kedisiplinan mereka sebagai pemain sepak bola profesional. "Hal inilah yang dapat dicontoh bagi pemain sepak bola kita. Bagi saya sendiri, bermain dalam pertandingan tadi menjadi sebuah kehormatan," ujar pemain nasional era 1980-an ini.

Salah satu bukti itu dapat terlihat dari penampilan Dunga. Hanya sekitar 24 jam tiba di Jakarta, penampilan Dunga cukup stabil untuk bermain selama 77 menit dalam pertandingan kemarin.

Sayang, meski pertandingan itu melibatkan mantan-mantan pemain dunia, sambutan dari masyarakat Indonesia tampak kurang. Kemeriahan dari sekitar 10.000 penonton yang hadir di stadion tak tampak. Pembawa acara Dik Doank, bahkan, harus meminta penonton, yang sebagian besar di antaranya anggota Jakmania itu, untuk meramaikan suasana.

Tentang Zinedine Zidane

TENTANG Zinedine Zidane

Zinedine Zidane: Superstar yang Rendah Hati

Dunia sepakbola tak pernah berhenti melahirkan bintang-bintang besar, tak terkecuali pemain berbakat yang satu ini. Zinedine Yazid Zidane. Lelaki keturunan Al-Jazair ini telah mucul sebagai superstar dunia sejak mengantarkan negaranya, Perancis sebagai Juara World Cup 1998. Kepiawaiaan Zizou (panggilan Zidane) dalam mengolah bola tak lagi diragukan . Ia pernah beberapa kali menjadi pemain terbaik dunia dan juga memberikan kontribusi yang besar bagi Perancis serta klubnya, Real Madrid dalam memenangkan berbagai kejuaraan.

Berasal dari Kawasan Kumuh

Zidane lahir di La Castellane, suatu kawasan kumuh di pinggiran kota Marseille. Kebanyakan penghuninya adalah imigran dari Aljazair, Maroko dan negara-negara jajahan Perancis lainnya. Kota ini terkenal sebagai kota paling kriminal di Perancis. Meskipun begitu, penduduk kota ini amat menggemari musik dan sepakbola.

“Aku beruntung lahir dari komunitas bermasalah. Itu mengajari kami bukan hanya sepakbola tapi terutama kehidupan. Banyak anak dari berbagai ras dan keluarga di sini. Kami harus bekerja keras untuk menghadapi hidup. Musik sangat penting tapi sepakbola adalah bagian yang paling gampang untuk ditekuni.” ujar Zidane

Setelah menjadi superstar, Zidane tak pernah “lupa kacang pada kulitnya.” Orang tua dan keluarga besarnya masih tinggal di sana. Anak-anak La Castellane juga sangat dekat padanya dan tidak sungkan-sungkan mendekati ketika Zizou berkunjung ke sana Orang-orang yang biasanya takut mendengar La Castellane menjadi antusias terhadap kota tersebut.

Santun dan Bersahaja

Zizou dikenal sangatlah santun terhadap publik. Ia memang rendah hati dan agak pemalu. Ia pun tak pernah bikin ulah di lapangan dan selalu menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan setimnya. Kerendahanhatinya terungkap dari kata-katanya, “Sungguh luar biasa bagi kami. Kami keluarga yang datang dari ketiadaan dan kini dihargai seluruh warga Perancis.”

Nilai transfer yang tinggi dan bayaran iklan yang mahal tak membuat Zidane ikut-ikutan bergaya hedonis seperti bintang sepakbola lainnya.Kalau ada waktu luang, ia lebih suka menghabiskan waktu bersama istrinya, Veronique dan ketiga anaknya. “Semua anakku pintar bermain bola. Aku suka mereka ikut tim (sepakbola), tapi mereka harus berlatih keras dulu, seperti aku,”ujar Zidane.

Zidane pun selalu antusias berpartisipasi dalam acara-acara amal. Ia banyak membantu dalam Luis Figo Foundation, yayasan sahabatnya yang menggalang dana untuk anak-anak miskin serta FIFA Foundation For The Children. Iapun tak pernah lupa tanah leluhurnya, Al-Jazair, di sana ia menjalani kegiatan football summer camp dengan anak-anak yang kurang mampu. Ketika negara itu tertimpa gempa bumi besar-besaran, Zidane langsung segera menggalang dana bantuan dari para pesepakbola untuk para korban gempa bumi.

Mengikis Ketegangan Etnis di Perancis

Tak dapat dipungkiri bahwa Perancis masih menyimpan berbagai masalah ketegangan etnis. Larangan pemakaian jilbab, pembatasan jumlah masjid dan kuil, serta pernyataan sinis seorang politisi Perancis yang sangat rasialis terhadap kemenangan timnas sepakbola Perancis adalah indikator yang sangat nyata terlihat oleh dunia. Zidane sendiri pun secara terus-terang mengungkapkan bahwa ia lebih suka tinggal di Madrid. Selain karena penduduknya lebih bersahabat, para fansnya pun tidak terpengaruh dengan ras atau kepercayaan. “Kota ini cocok sekali dengan kebudayaaan dan kepercayaan yang saya anut,” katanya. Walaupun Zidane mengakui bahwa ia bukan muslim yang taat bahkan kerap meninggalkan sholat tapi ia tetap menjaga teguh kepercayaannya itu.

Namun bagaimanapun juga sosok Zidane mampu mengikis ketegangan etnis di Perancis. Anggapan bahwa etnis Arab sebagai pengacau dan sampah bagi Perancis seketika sirna saat Zidane menjadi pahlawan Perancis pada World Cup 1998. Ia menjadi orang paling terkenal di Perancis, jutaan orang Perancis mengaguminya. Kehidupannya yang lurus, sikapnya yang rendah hati serta permainan bolanya yang fantastis telah memikat hati rakyat Perancis. Mereka tidak mempedulikan Zidane adalah warga keturunan Arab ataupun seorang muslim.

Dengan popularitasnya yang tinggi dan namanya yang amat berpengaruh, banyak politikus yang ingin memanfaatkan Zidane. Dalam menanggapi ini, Zidane menyikapinya dengan tak banyak bicara di media massa. Sehingga meskipun popular, selain gayanya di lapangan, publik Perancis tidak banyak mengenal Zidane. Ketika ditanya apakah ia naik haji pada awal 2004, ia hanya diam saja. Ia memang tidak suka ditanya mengenai kehidupan pribadinya terutama masalah agama yang sangat sensitif di Perancis..

Perjalanan Karir Tak Selalu Mulus

Bagaimanapun juga, seperti halnya manusia Zidane juga mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Salah satunya dalam karir sepakbolanya. Kekalahan Perancis di Piala Dunia dan Piala Eropa membuat Zidane dan para pemain Prancis lain mendapat kritikan pedas dari media dan masyarakat. Tapi Zidane yang pendiam itu memilih untuk diam saja menanggapi kritik-kritik tersebut. Bila mendapat kekalahan, Zidane hanya memfokuskan diri untuk berusaha menjadi lebih baik di pertandingan-pertandingan lainnya.

Zidane selalu tabah dalam menghadapi segala masalah di timnas maupun di klubnya, Real Madrid. Bahkan saat Real Madrid mengalami krisis dana, Zidane rela gajinya dipotong setiap bulannya. Zidane dapat memahami bahwa El Real sedang dalam masa-masa sulit, sehingga ia tak ingin menuntut apapun dari klubnya tersebut. Ini menunjukkan bahwa Zidane bermain bola bukan hanya karena uang.

Berita yang tak begitu mengenakkan hati para penggemar Zidane saat ini adalah mengenai rencana kemundurannya dari timnas Perancis. Zidane mengakui bahwa ia akan lebih serius bermain di Liga saja. Seperti biasa, Zidane tak banyak bicara tentang alasan kemundurannya ini.

Tentunya dengan kemunduran Zidane dari timnas ini, para penggemar Zidane akan merasa kehilangan. Sebab, seorang pesepakbola seperti Zidane ini tidak lahir 100 tahun sekali. Ia adalah seorang tokoh yang berpengaruh besar bagi dunia sepakbola.

Image Pele




Tentang Pele


PELE

Edson Arantes do Nascimento, yang oleh dunia dikenal secara luas dengan nama "Pelé", dilahirkan pada tanggal 23 Oktober 1940 di sebuah desa kecil di Brazil yaitu Três Corações yang termasuk dalam wilayah negara bagian Minas Gerais. Ia telah dibaptis di Igreja da Sagrada Familia de Jesus, Maria de José. Ayahnya, João Ramos do Nascimento atau biasa disebut Dondinho, adalah juga pemain profesional yang cukup dikenal di dunia sepakbola. Pada jamannya ia dikenang sebagai salah satu pemain terbaik untuk bola-bola atas. Ia bermain sebagai penyerang tengah untuk klub Fluminense sampai akhirnya ia disergap cidera yang mengakibatkan tak bisa lagi berpartisipasi di dunia sepakbola divisi satu. Karena itu ibunya, Celeste, mengambil-alih tanggung jawab untuk membesarkan Pelé dan suadara-saudaranya dengan penuh cinta kasih. Ketika masih kanak-kanak, Pelé sekeluarga boyongan ke Baurú, bagian tengah São Paulo, dimana ia belajar dari para mahaguru seni sepakbola. Pada suatu hari Pelé mengakui bahwa ia merasa mempunyai 3 ikatan batin yang sama eratnya dengan Três Corações tempat ia dilahirkan, Baurú tempat ia menimba ilmu dan Santos, klub yang membawa namanya bersinar.

Karir Pelé

Pelé mengais uang pertama kali sebagai penyemir sepatu. Namun, cita-citanya sebagai pemain sepakbola tidak pernah sirna.

Ia meniti karir di sepakbola semenjak usia dini. Semula ia bergabung di beberapa tim amatir seperti Baquinho dan Sete Setembro. Menginjak usia 11 tahun, yaitu ketika ia bergabung dengan tim Ameriquinha yang tidak ada pelatihnya, ia ditemukan oleh mantan pemain tim nasional Brazil untuk Piala Dunia yang bernama Waldemar de Brito. Ia menangkap bakat yang luar biasa dari Pelé dan memberikan tawaran untuk bergabung dengan tim yang diasuhnya, yaitu Clube Atlético Baurú?. Menginjak usia 15 pada tahun 1956, de Brito memboyong Pelé ke kota São Paulo dan dicoba bermain untuk klub profesional, Santos Futebol Clube (SFC). Hari itu, de Brito berkata kepada Direktur klub bahwa "anak ini kelak akan menjadi pemain sepakbola terbesar di dunia."

Kiprah Pelé dimulai pada tanggal 7 September 1956 ketika ia menggantikan posisi penyerang tengah Del Vecchio. Secara mengejutkan ia menjebol gawang lawan dengan 6 gol dari 7 gol yang disarangkan timnya dengan posisi akhir 7-1 untuk kemenangan Santos. Pelé mengawali gol emasnya pada menit ke 36 yang bekerjasama dengan 2 penyerang pendukungnya Raimundinho dan Tite. Pelé menerima umpan di daerah kotak penalti dan meskipun ditempel ketat oleh pemain belakang lawan, ia mampu menceploskan si kulit bundar di antara kedua kaki penjaga gawang Zaluar. Zaluar belakangan dikenal secara luas sebagai korban pertama dari keganasan kaki emas Pelé. Perjalanan Pelé dari pertandingan tersebut hingga mencapai puncak kejayaannya dilalui dengan sangat cepat. Dalam pertandingan liga yang pertama kali bersama Santos, ia langsung menggebrak dengan 4 gol. Pada musim kompetisi berikutnya, ia berhasil menempatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di kompetisi liga negara bagian São Paulo dengan 32 gol.

Mimpi buruk bagi Corinthians

Selama 10 tahun Pelé membela bendera Santos, klub Corinthians do Parque de São Jorge tidak pernah mampu mengalahkan Santos. Hasil-hasil pertemuan kedua tim tersebut adalah sebagai berikut:

14 September 1958: 1-0, 1 gol Pelé
7 Desember 1958: 6-1, 4 gol Pelé
30 April 1959: 3-2, 1 gol Pelé
26 Agustus 1959: 3-2, 1 gol Pelé
27 Desember 1959: 4-1, 2 gol Pelé
31 Juli 1960: 1-1, 1 gol Pelé
30 Nopember 1960: 6-1, 1 gol Pelé
3 Desember 1960: 1-1, 0 gol Pelé
23 September 1962: 5-2, 1 gol Pelé
3 Nopember 1962: 2-1, 1 gol Pelé
3 Maret 1963: 2-0, 2 gol Pelé
21 September 1963: 3-1, 3 gol Pelé
14 Desember 1963: 2-2, tidak main
18 Maret 1964: 3-0, 1 gol Pelé
30 September 1964: 1-1, 1 gol Pelé
6 Desember 1964: 7-4, 4 gol Pelé
15 April 1965: 4-4, 4 gol Pelé
29 Agustus 1965: 4-3, 2 gol Pelé
14 Nopember 1965: 4-2, 2 gol Pelé
8 Oktober 1966: 3-0, 0 gol Pelé
17 Desember 1966: 1-1, tidak main
13 Mei 1967: 1-1, 1 gol Pelé
10 September 1967: 2-1, tidak main
10 Desember 1967: 2-1, 1 gol Pelé

Pertama kali Corinthians berhasil menaklukkan Santos setelah periode tersebut adalah pada tanggal 6 Maret 1968 dengan skor 2-0.

Tidak lama berselang setelah Pelé mengikuti musim kompetisi pertama bersama SFC, Sylvio Pirilo, pelatih tim nasional Brazil pada waktu itu, memasukkan Pelé kedalam pasukannya. Ketika berumur 16 tahun pada tanggal 7 Juli 1957, Pelé memperkuat tim nasional Brazil melawan Argentina serta berhasil mencetak satu-satunya gol dengan skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina. Datang menjelang Piala Dunia tahun 1958, dan dunia terperangah dengan kehadiran si Mutiara Hitam ini. Akselerasinya yang mengagumkan serta tembakan yang keras dan terarah benar-benar membangkitkan decak kagum bagi siapapun. Ia cukup dengan melenggang ke lapangan hijau, dan seketika itu gemuruh penonton meledak tiada hentinya mengelu-elukan dirinya. Julukan si Raja diberikan terhadap Pelé oleh pers Perancis pada tahun 1961 semenjak ia memperkuat SFC di beberapa pertandingan di Eropa.

Pelé dan Piala Dunia

Legenda Brasil

Pelé turut ambil bagian dalam 4 kali Piala Dunia: Swedia tahun 1958, Chili tahun 1962, Inggris tahun 1966 dan Meksiko tahun 1970. Ia berhasil membukukan 12 gol dalam 14 kali pertandingan Piala Dunia.

Swedia 1958

Pertama kali Pelé ambil bagian dalam Piala Dunia ini adalah pada pertandingan ketiga, ketika berhadapan dengan Soviet. Ia diterjunkan atas saran dari para official tim kepada Vicente Feola untuk menurunkan Pelé dan Garrincha setelah mereka memenangi dua pertandingan terdahulu melawan Austria dengan 3-0 dan seri 0-0 melawan Inggris. Pada pertandingan pertama tersebut Pelé belum berhasil menjaringkan gol, tetapi tim Brazil berhasil menekuk Soviet dengan skor 2-0 yang dihasilkan oleh Vavá. Di pertandingan berikutnya Pelé membukukan gol satu-satunya bagi tim Brazil. Ketika Brazil berhasil mempecundangi Perancis di semi final dengan skor mencolok 5-2, Pelé melakukan hat trick dengan 3 gol sedangkan Vavá dan Didi masing-masing 1 gol. Di partai final berhadapan dengan Swedia, Pelé menjaringkan 2 gol (lihat videonya disini), demikian pula Vavá 2 gol dan Zagalo 1 gol untuk hasil akhir 5-2.

Chili 1962

Dalam partai pertama yang dimainkan tim Brazil melawan Meksiko, Pelé mencetak satu gol dan Brazil memenangi pertandingan tersebut. Sayangnya, kendati kejuaraan ini termasuk milik Pelé, tetapi ia terpaksa diistirahatkan lebih awal sebagai ujung tombak. Memasuki menit kesepuluh ketika berhadapan dengan Cekoslowakia, otot kakinya tertarik dan ia harus ditarik keluar dari pertandingan ini dan partai-partai berikutnya. Piala yang diraih Brazil kemudian mejadi milik Mané Garrincha, sementara posisi Pelé digantikan oleh Amarildo.

Inggris 1966

Sejak semula, segala sesuatunya terasa serba salah bagi tim Brazil untuk menghadapi kejuaraan ini. Bagaimanapun, 43 pemain akhirnya direkrut untuk memperkuat pasukan Brazil. Namun ketika tim bertolak ke Eropa, dua pemain terbaik mereka yaitu penjaga gawang Valdir dan penyerang Servilio dikeluarkan dari tim. Di pertandingan pertama, Brazil mengalahkan Bulgaria dengan 2-0 hasil dari kaki Pelé 1 gol dan satunya oleh Garrincha. Kemudian Brazil kalah 3-1 melawan Hungaria dan di pertandingan berikutnya melawan Portugis, Pelé terpaksa harus ditarik keluar lapangan karena dua kali cidera oleh pemain-pemain Portugis yang bermain sangat kasar. Pergantian itu dilakukan sebagai peringatan terhadap tim lawan.

Meksiko 1970

Ini adalah kejuaraan yang menganugerahkan Piala Tetap Jules Rimet bagi Brazil. Di pertandingan pertama, Brazil menjungkalkan Cekoslowakia 4-1 melalui 2 gol dari Jairzinho, masing-masing 1 gol oleh Pelé dan Rivelino. Korban berikutnya menyusul Inggris yang ditekuk 1-0 melalui gol Jairzinho. Kemudian Brazil memenangi 3-2 atas Rumania melalui 2 gol dari Pelé dan satu gol dari Jairzinho. Kemengangan berikutnya diraih atas Peru dengan skor 4-2. Brazil melaju ke puncak setelah dalam babak semi final mempecundangi Uruguay dengan skor 3-1. Di partai Final Brazil melibas tim Itali dengan skor telak 4-1 melalui gol-gol dari Pelé (lihat videonya disini), Gérson, Jairzinho, dan Carlos Alberto. Dalam kejuaraan ini, Pelé juga membukukan 3 kali kesempatan emas terbaik dalam sejarah, sehingga membuahkan julukan penyelamatan terbaik bagi penjaga gawang Inggris, Banks, sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia ketika ia menggagalkan sundulan kepala dari Pelé.

Tiga musim kompetisi bersama New York Cosmos

Oleh Pelé dan diambil dari Peles Homepage.

"Ini semua berawal pada tahun 1971 ketika saya masih memperkuat Santos FC bertandang ke Kongston, Jamaica dan saya menerima kunjungan Clive Toye, general manager dari sebuah tim yang baru dibentuk dengan nama Cosmos, Phill Woosman yang belakangan menjadi anggota NASL dan Kurt Lamm, sekjen Federasi Sepabola Amerika Serikat (US Soccer Federation). Mereka ingin tahu apakah saya mau bermain di Amerika untuk tim Cosmos apabila saya sudah gantung sepatu dari Santos. Ketika Prof. Mazzei menerjamahkan maksud mereka, saya bilang: 'Proffessor, katakan bahwa mereka kurang waras! Saya tidak akan bermain untuk tim manapun setelah pensiun dari Santos!'. Tiga tahun kemudian, setelah terakhir kalinya saya membela Santos, Clive Toye menelpon saya dari New York dan mengatakan bahwa Cosmos ingin bicara dengan saya tentang kemungkinan mengontrak saya. Enam bulan berselang sejak pertemuan diadakan serta berbagai pesan, telgram dan telpon ditujukan kepada saya, akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran Warner Communications, pemilik klub New York Cosmos, untuk berkecimpung lagi di dunia profesional selama tiga musim kompetisi.

Kenangan tentang Pelé yang tak terlupakan

Pelé adalah orang yang dapat menggerakkan massa. Di akhir tahun enampuluhan, ketika ia bersama timnya Santos bertandang ke Nigeria untuk memainkan beberapa partandingan persahabatan, perang sipil yang sedang berkobar di negara itu seketika terhenti selama kunjungannya. Ketika ia menjejakkan kaki di Amerika Serikat untuk berbagung dengan New York Cosmos, ia menyedot ribuan penggemar ke stadion hanya karena ingin menyaksikan dirinya. Pelé adalah sebuah idola bagi jutaan orang sampai saat ini. Namanya disebut-sebut di seluruh penjuru dunia dengan berbagai pujian.

Banyak nama-nama terkenal memberikan atribut tentang Pelé, diantaranya sebagai berikut:

"Bagaimana anda mengeja Pelé? H-E-B-A-T."
The Sunday Times, koran London.

"Seandainya Pelé tidak dilahirkan sebagai seorang laki-laki, maka ia akan terlahir sebagai sebuah bola."
Armando Nogueira, jurnalis Brazil.

"Melahirkan 1.000 gol seperti yang Pelé jaringkan tidaklah sesulit melahirkan seorang Pelé."
Carlos Drummond de Andrade, penyair Brazil.

"Setelah gol kelima terjadi, saya ingin memberi hormat kepadanya."
Sigge Parling, pemain belakang Swedia yang menempel Pelé sepanjang pertandingan final Piala Dunia 1958.

"Saya kira: ia toch terbuat dari kulit dan tulang seperti saya. Ternyata saya salah."
Tarciso Burnigch, pemain belakang Italia yang menempel Pelé selama partai final Piala Dunia 1970.

"Wow, man, anda terkenal."
Robert Redford, setelah ia menyaksikan Pelé memberikan lusinan foto dirinya di New York sedangkan ia tidak diminta satu lembarpun.

"Pelé tidak akan punah."
Edson Arantes do Nascimento - Pelé.

Di tahun 1993, Pelé diangkat sebagai anggota Dewan Kehormatan Sepak Bola Amerika Serikat. Setelah Pelé bermain di sebuah stadion di Lima, ibukota Peru, di dinding stadion terpampang papan bertuliskan "Pelé pernah bermain disini." Suatu kali ia bahkan menghetikan perang sipil (lihat di atas) di Nigeria: 48 jam gencatan senjata ditandatangani dengan Biafra sehingga kedua belah pihak dapat menyaksikan pertandaingan eksebisi yang dimainkan oleh Pelé. Ketika ia pamit dari tim nasional pada tanggal 18 Juli 1971, 200.000 orang tumpah ruah di monumen Maracanã, dan ia menghadiahkan kaos bernomor punggungnya yang bersejarah yaitu nomor 10 kepada seorang anak berusia 10 tahun.

Pelé adalah satu-satunya orang yang berhasil memboyong 3 kali Piala Dunia sebagai pemain (1958, 1962 dan 170) dan mencetak 1.281 (atau 1284) gol di 1.363 pertandingan profesional yang barangkali ini merupakan rekor sepanjang masa di dunia sepakbola. Ini adalah rata-rata gol sepanjang masa dengan 0,93 gol tiap pertandingan. Pada tahun 1959 ia mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di liga São Paulo dengan 126 gol dalam satu musim kompetisi. Pada tanggal 21 Nopember 1964, ia mencetak 8 gol dalam satu pertandingan melawan Botafogo dari Rio de Janeiro. Tanggal 19 Nopember 1969 ketika ia mencetak golnya ke-1.000 yang sangat terkenal dari titik penalti di menit ke 34 melawan Vasco da Gama, ia mendedikasikan gol tersebut kepada para anak-anak miskin dan orang-orang jompo yang menderita di Brazil. Pelé juga turut ambil bagian dalam apa yang dikenal dengan "Usia Emas" dari Libertadores Cup dari 1960 sampai1963 dimana Peñarol, kesebelasan dari Uruguay, menjadi langganan bertemu Santos di babak final. Peñarol memenangkan pertandingan pada 1960 dan 1961 sedangkan Santos merebut gelar juara berturut-turut pada 2 tahun berikutnya.

Pelé memberikan inspirasi atas peranan pengatur irama permainan sebagai tipe pemain tengah. Ia selamanya memimpin pemain-pemain hebat Brazil lainnya seperti Vavá, Didi, Garrincha, dan masih banyak lagi. Banyak yang memberikan penilaian bahwa Pelé tetap akan menjadi pemain terbaik seandainya dia ditempatkan pada posisi manapun. Pelé bahkan pernah suatu kali bersikukuh kepada manajer Santos untuk bermain sebagai penjaga gawang. Pada tanggal 19 Januari 1964 ia menggantikan posisi Gilmar, penjaga gawang Santos yang dikeluarkan oleh wasit, dalam babak semi final Piala Brazil. Selama lima menit, setelah menciptakan 3 gol, Pelé menggunakan nomor punggung 1 dan melakukan dua kali penyelamatan yang spektakuler sehingga mengamankan jalan bagi Santos untuk menuju babak final.

Perpisahan dengan Santos

Pelé bermain untuk terakhir kalinya selama 21 menit bersama Santos Futebol Clube dalam suatu pertandingan pada tanggal 3 Oktober 1974, mulai jam 21:08. Santos memenangkan pertandingan melawan Ponte Preta tersebut dengan skor 2-0 melalui gol Cláudio Adão dan gol bunuh diri dari Geraldo. Tetapi pertandingan sempat terhenti bagi para penggemar ketika:

"Aos 21 minutos de jogo, quando Pelé, inesperadamente, pegou a bola com as mãos, ajoelhou-se no meio do gramado e ergueu os braços, a torcida que estava em Vila Belmiro não pôde negar-se a um momento de surpresa. Mas, foi apenas um momento. Logo, ela compreendeu que Pelé estava determinando o final de sua carreira de maior jogador de futebol de todos os tempos."

[Di menit ke 21, ketika Pelé secara tak terduga menangkap bola dengan kedua belah tangannya, kemudian berlutut di tengah lapangan dan mengangkat kedua tangannya, menyebabkan gemuruh di stadion Vila Belmiro seketika menjadi tercengang menyaksikan adegan tersebut. Tetapi hanya berlangsung sejenak. Penonton segera menyadari bahwa Pelé telah memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai pemain sepakbola terbaik sepanjang masa.]

Itu adalah akhir dari karir Pelé membela kostum bergaris kebanggaan Santos. Setelah itu sang kaisar Pelé diboyong oleh New York Cosmos dengan tujuan mempopulerkan olahraga sepakbola di tanah Paman Sam. Dan satu hal yang dapat dilakukan oleh Pelé dengan sempurna, adalah mempopulerkan segala keinginannya dengan kebesarannya, kecerdasannya, dan ketokohannya yang mendunia.

Image Maradona




Tentang Maradona

Legenda Argentina
Sepakbola tidak hanya mengundang fanatisme terhadap klub. Hampir di setiap penjuru dunia, lahir fans klub spesifik untuk pemain. Makanya jangan heran ketika mengetik nama David Beckham, Alessandro del Piero atau Ronaldinho kita akan menemukan tidak hanya satu website khusus pemain yang didesain khusus oleh kelompok fans. Di Bandung, Zaenal Arief selain menjadi pencetak gol, mungkin juga pencetak sejarah sebagai pemain Persib pertama yang memiliki fans klub khusus. Arief layak merasa istimewa, karena fans klub membantunya terus mencetak gol untuk Persib.
Sejarah fans pemain mencatatkan puncaknya ketika segelintir pemuja Diego Armando Maradona mendirikan Gereja Maradona, atau dalam bahasa setempat Iglesia Maradoniana. Kabarnya, kini penganut 'agama' Maradona ini telah mencapai angka 15.000 orang di seluruh dunia. Berawal dari sebuah ide di kota Rosario, 30 Oktober 1998, mereka mengukuhkan ajaran ini. Tanggal tersebut pun tentu dianggap sakral karena merupakan kelahiran sang dewa. Perkembangannya pun menjadi kompleks. Mereka memiliki kitab suci, yaitu buku biografi Maradona, dan '10 Perintah Tuhan' ala mereka sendiri. Salah satu perintah tersebut adalah keharusan untuk mencantumkan nama Diego kepada anak-anak mereka.
Belum lengkap dengan dua perangkat tadi, anggota Persudaraan Diego (Diegorian Brothers) ini juga menganggap mereka yang membantu karir Maradona dianggap sebagai orang suci, dan tentunya kebalikannya bagi mereka yang menghujat karir sang Dewa. Iglesia Maradoniana juga mengenal penanggalan sendiri yang dimulai dari tahun 1960, ketika sang legenda lahir. Jadi, tahun 2007 awal masih masuk dalam 46 AD, After Diego.
Pengkultusan Maradona bukan tanpa sebab. Gol Tangan Tuhan dari Maradona ketika menaklukan Inggris di Piala Dunia 1986, merupakan momen yang dianggap para Diegorian Brothers sebagai hari pentahbisan Maradona menjadi Tuhan, atau dewa. Di Amerika Latin, khususnya Argentina, kemenangan ini memiliki memang memiliki arti yang mendalam. Pertama, Maradona menaklukan Inggris, bangsa yang begitu sombongnya mendeklarasikan diri sebagai asal dari sepakbola. Keangkuhan Inggris ini ditambah panasnya kondisi politik Argentina-Inggris ketika itu. Kedua, Maradona membuktikan bahwa postur tubuh bangsa Amerika Latin yang tidak sebanding dengan Eropa bukan halangan untuk berprestasi. Tubuh mungil Maradona malahan menunjukkan potensi sepakbola yang jauh lebih menarik, tidak sekedar kick and rush ala Inggris . Oya, gol Tangan Tuhan, Hand of God, akhirnya diabadikan menjadi nama kapel tempat ibadah Iglesia Maradoniana.
Nomor punggung 10 milik Maradona-pun dianggap lebih dari sekedar angka belaka. Diego 10's, nomor sepuluh Maradona, jika diutak-atik akan jadi D10S, dios, dalam bahasa Spanyol berarti Tuhan. Terdengar berlebihan memang, ya? Tapi, para penganut Iglesia Maradoniana ini mengaku masih memiliki ketaatan pada agama asli masing-masing. Bagi mereka, agama dengan Tuhan yang asli merupakan bagian dari realitas, sementara Maradona adalah interpretasi dari hati.

Tentang Sriwijaya FC


Sriwijaya Football Club (disingkat Sriwijaya FC) adalah sebuah klub sepak bola yang bermarkas di Palembang. Tim berjuluk Laskar Sriwijaya ini merupakan tim yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan setelah terjadi penjualan opsi kepemilikan dari Persijatim Jakarta Timur[1]. Tim berkostum merah kuning bermotif songket ini memiliki 2 kelompok suporter ( S- Mania, Singa Mania )yang kemudian digabung menjadi Sumselmania.

Tentang L. Messi

Saya mohon maaf sebelumnya karena saya kurang tahu tentang dia tapi yang pasti ia didik di barca dari sejak 17 tahun dan mendapt gelar pemain muda terbaik saat itu dan dijuluki sebagai pengganti maradona.
La popolarità di Martino è immensa, nel tempo e nello spazio, di gran lunga superiore a quella di qualsiasi altro santo. In Francia sono a lui dedicate quasi cinquemila tra parrocchie e abbazie.
In Ungheria, sua terra natale, oltre 100 chiese portano il suo nome. È patrono di Belluno e a lui è dedicata la cattedrale di Lucca.
Quasi impossibile determinare quante e quali categorie e associazioni hanno Martino per patrono.
E di fatto sconfinata è la “fortuna iconografica” di Martino, legata per lo più all’atto di dividere il mantello con il povero di Amiens, ma non solo.
Basti pensare allo straordinario ciclo di affreschi di Assisi, dipinti da Simone Martini nella Basilica Inferiore.
In questo Martino, l’uomo che divise il mantello, ne forniamo una esemplificazione.

______________________

La Vienne è un fiume già grande quando sfocia nella Loira, dopo aver attraversato estesi pascoli e foreste immense.
Le colline attorno sono verdi e luminose, digradano dolcemente verso l’acqua. Candes sorge proprio al confluire dei due fiumi, un villaggio piccolo, di battellieri e pescatori, una manciata di capanne tirate su col fango secco, dal tetto d’erba. Poche case soltanto, sull’alto della collina, sono di tufo bianco e dominano le due vallate.
Qui, nel cuore della Francia, l’inverno arriva presto. Di solito, a novembre, i venti del nord spazzano la vallata larga della Loira. Non è così quest’anno.
A Candes è tiepido autunno, quasi una primavera si direbbe. Anzi, a sera, sembra di avvertire ancora la brezza profumata di salsedine che viene dall’oceano.
Martino, il vescovo, si è messo in strada di buon mattino, appena sorto il sole. Ha lasciato alle sue spalle le mura alte e imponenti di Tours e per qualche miglio ha disceso a piedi la vallata della Loira. Candes è una parrocchia turbolenta, fondata da poco, e lui deve proprio andarci: i chierici di quella zona sono inquieti, qualche volta vengono a diverbio tra loro. Menano le mani, perfino.
Lo accompagna qualche monaco, un gruppetto sparuto.
Martino è vecchio, ormai. I suoi ottant’anni hanno tolto vigore alle braccia e, a ogni passo, i ginocchi scricchiolano. Quante miglia avrà percorso nella sua vita vagabonda, se lo chiede sempre più spesso.
Ma lo sguardo è vivido, come sempre, e i suoi occhi hanno bagliori di fuoco. Martino ha fatto il soldato per tanti anni e questo gli conferisce modi spicci, ruvidi talora. E tuttavia chi gli sta vicino è pervaso dalla pace e dalla tranquillità che infonde attorno a sé.
Ci si sente sicuri vicino a lui, e protetti, come sotto un grande albero quando picchia il sole estivo, o come dietro le mura di Tours quando i messaggeri recano la notizia che un crudele capo barbaro sta scendendo con la sua tribù affamata, da nord.
Martino, il giorno prima, ha preso accordi con un barcaiolo. L’uomo lo aspetta al piccolo molo.
Quando vede Martino e i suoi, comincia a sciogliere gli ormeggi.
La sciabica dondola leggermente, cullata dalle onde, guadagna il centro del fiume, prende velocità.
È una barca piccola, di quelle che servono per pescare i lucci dalle squame d’argento.
Come al solito, Martino siede a poppa, assorto nei suoi pensieri e nella preghiera. Non teme i pericoli, lui, e lascia che siano gli altri a scrutare da prua l’orizzonte e le rive del fiume, a preoccuparsi dei gorghi violenti e improvvisi dell’acqua.
Ogni volta che prende la via del fiume, non può fare a meno, Martino, di pensare a tre anni prima. A Nîmes era stato convocato un sinodo e quasi tutti i vescovi lì riuniti gli erano ostili.
Per via della vecchia e dolorosa questione di Priscilliano, il teologo condannato a morte, una ferita ancora aperta nel suo cuore.
Così lui si era tenuto appartato dai lavori, ma mentre navigava sulla scialuppa che lo riportava a Tours, un angelo era venuto dal cielo e gli aveva raccontato tutto quello che i vescovi si erano detti. Al ricordo, un sorriso lieve gli increspa le rughe del viso.
Alza gli occhi. Nel sole, sulla collina di Candes, il tufo bianco delle case brilla intenso, un lampo nel tramonto tranquillo, là dove le vallate di Vienne e Loira si congiungono.
Arrivato, finalmente.
La sciabica approda, i suoi compagni scendono.
Ma, nell’istante in cui anche lui sta per appoggiare il piede sulle assi del molo, Martino avverte il suo vecchio cuore battere irregolare. Il sangue rallenta la corsa e le forze lo abbandonano.
Un dolore sordo in mezzo al petto, come un pugno.
È arrivata l’ora, lo comprende subito.
Sta morendo: lui che aveva affrontato tanti nemici, lui che si era presentato all’ultima battaglia prima del congedo completamente disarmato, il vecchio guerriero che aveva trasformato la crudeltà insensata delle campagne militari romane nello zelo e nell’amore della fratellanza cristiana, sta morendo.
Si appoggia ad un giovane monaco dal volto impaurito, altre braccia lo aiutano. Si fa portare nella sacrestia della chiesetta di Candes. Faceva sempre così, nel suo girare continuo tra le parrocchie della diocesi: diceva che gli preparassero un giaciglio nella sacrestia, mentre i monaci del suo seguito trovavano ospitalità e alloggio nelle case vicine. Passava la notte in preghiera, in colloquio intimo e affettuoso col suo Dio.
Questa volta no. Il suo cuore sta cedendo, una febbre terribile lo aggredisce. Nella sacrestia Martino ordina che gli sia preparato un letto di cenere, vi si stende sopra. Nel segno della povertà perché povero aveva sempre vissuto.
Non vuole coltri, prega.
I fedeli e i preti del suo seguito hanno compreso.
Lo implorano di non lasciarli. Lui che tante volte ha miracolato gli infermi, questa volta guarisca se stesso.
Martino muove le labbra a fatica. Irradia serenità attorno a sé, come sempre. Dice che per tanti anni ha montato la guardia al campo del Signore. Che, se fosse per lui, non smetterebbe di essere sentinella, vedetta, difensore.
Ma è proprio il Signore in persona che gli parla e lo chiama: Martino deponga le armi della pace, della fede, dell’amicizia, della comprensione. Martino venga finalmente a sedere alla sua destra.
Muore Martino, e mentre consuma la sua visionaria agonia, gli viene a far visita ancora una volta l’antico nemico, il diavolo, contro il quale tanto spesso egli ha combattuto. Sempre lo aveva sconfitto, anche quando sembrava fortissimo.
Quanti posseduti aveva liberato Martino: e ora il vecchio nemico si ripresenta al suo capezzale, proprio mentre consuma le ore estreme dell’agonia.
Martino lo caccia indietro un’ultima volta. Come quando si era presentato vestito di stoffe preziose e coperto di splendenti monili affermando di essere il Cristo: Martino lo aveva confuso semplicemente dicendogli che non poteva essere il suo Signore, la povertà fatta carne. O come quando si presentava a lui mentre camminava, sotto le spoglie più diverse, cercando di deviarlo dalla sua strada. Lo blandiva e lo lusingava talora, il demonio, e più spesso lo minacciava, lo insultava, un torrente di parole ora dolci, ora aspre. Bastava una parola di Martino per costringerlo a ritirarsi, o anche solo uno sguardo.
Non desiste, il nemico. Ancora lì, accanto al suo giaciglio di morte.
Martino lo guarda, gli sussurra: «Il seno di Abramo sta per accogliermi ». Gli dice che nulla di quanto è suo appartiene al demonio.
Muore così, combattendo. Dolce e intransigente insieme.
***
Sulpicio Severo, discepolo, amico e primo biografo, racconta così le ultime ore del santo vescovo di Tours.
Martino muore l’8 novembre del 397. Il suo corpo viene messo su un battello che risale la corrente della Loira fino a Tours: le rive del fiume sono piene del popolo che nei ventisei anni del suo episcopato egli aveva difeso e protetto, dispiegando anche le sue straordinarie capacità di taumaturgo, di guaritore e di esorcista.
Della sua santità c’era piena percezione mentre era ancora in vita, ma si può tranquillamente affermare che Martino fu consacrato da una eccezionale testimonianza di folla già durante le sue esequie. Sulpicio Severo ci dice che ad aprire il corteo funebre c’era uno stuolo di duemila persone tra monaci e religiose consacrate.
Tutti probabilmente avevano ricevuto gli ordini sacri da lui e a lui si sentivano intimamente legati.
Il resto del corteo era formato da una moltitudine immensa.
Martino fu deposto, secondo i suoi desideri, in una tomba poverissima, l’11 novembre, nei sobborghi di Tours, là dove sarebbe in seguito sorta la basilica a lui dedicata.
***
11 novembre: una data destinata a radicarsi nel mondo agricolo occidentale perché veniva considerata l’inizio della nuova annata contadina. Il giorno innanzi, il 10, era dunque la conclusione dell’annata precedente e per secoli e per intere generazioni quello fu il temuto giorno dello scomio (o escomio, cioè la disdetta, il congedo). Quanti “sanmartini” hanno patito e subito le nostre genti: su una strada, da un giorno all’altro, con le poche masserizie, senza che i padroni dovessero nemmeno giustificare la rescissione del patto. Un no senza appello, che condannava alla fame, alla migrazione, alla disperazione.
A rileggere oggi la vita di Martino ci si chiede se è solo per un capriccio del calendario che egli viene considerato il santo protettore del mondo agricolo.
In realtà Martino fu uomo, prete e vescovo che visse il suo tempo dalla parte degli ultimi, difendendo i deboli e battendosi contro l’oppressione.
Lui, soldato, ebbe a dare testimonianze estreme di desiderio di pace e di non violenza. Ha una sua vivissima attualità, dunque.
Che si radica dentro al tempo in cui ha vissuto e si proietta nei secoli e nei millenni successivi.
***
Martino, che era nato attorno al 315/316, attraversò tutto un secolo, il quarto dell’era volgare.
Un secolo fondamentale nella storia della Chiesa: il cristianesimo esce dal chiuso delle case private in cui era confinato, smette di essere perseguitato, soprattutto procede a fondamentali sistemazioni dottrinarie.
Il passaggio dal terzo secolo al quarto aveva visto le feroci persecuzioni di Diocleziano, il quale fu ottimo imperatore (tra l’altro nel 305 abdica e si ritira a vita privata, dimostrando nessun attaccamento al potere) ma vedeva nel cristianesimo un ostacolo al riassetto istituzionale dell’impero e si comportava di conseguenza.
Esattamente il contrario di Costantino (o meglio, del suo collega Licinio) che nel 313, con l’editto di Milano, concede la libertà di culto ai cristiani. Costantino (cinico e interessato la sua buona parte) aveva compreso che la nuova religione, così largamente diffusa soprattutto tra i soldati, avrebbe potuto essere il collante sociale utile a tenere unita la ormai vacillante compagine dell’impero.
Nel 330, per la prima volta, il natale di Cristo viene celebrato il 25 dicembre, data in cui da sempre il mondo pagano celebrava il natale del Sole.
Fu anche, il quarto secolo, periodo di dibattito e di grandi eresie (per esempio l’arianesimo che negava la natura divina del Cristo) e scismi che comportavano lotte accanite e coinvolgevano interi eserciti. A Nicea, nel concilio del 325, trova una sua definizione il controverso mistero trinitario, all’origine di tante eresie. Il Credo che ancor oggi i cristiani recitano altro non è che il cosiddetto simbolo niciano, elaborato in quell’occasione.
A Roma si succedettero qualcosa come 11 papi (in un primo tempo solo vescovi di Roma) e almeno 2 antipapi. Uno dei papi, lo spagnolo Damaso (papa piuttosto turbolento, se è vero che fu coinvolto in una enorme rissa, una battaglia, anzi - un centinaio di morti! - a Roma, nei pressi della chiesa di santa Maria Maggiore contro i fautori dell’antipapa Ursino) stabilì che il vescovo di Roma era depositario della linea di successione di Pietro. Il suo successore, Siricio, è il primo ad assumere, all’atto della sua elezione (384), il titolo di papa.
Damaso è anche il vescovo di Roma che affida a Gerolamo la revisione del testo latino della sacra scrittura, la cosiddetta “vulgata”.
Quando san Martino nasce a Sabaria (l’odierna Szombathely) in quella che allora si chiamava Pannonia e ora Ungheria, Costantino sta diventando la personalità più importante all’interno della tetrarchia che regge l’impero.
Sarà un secolo di guerre durissime, guerre civili e guerre di contenimento dei popoli che urgono ai confini dell’impero. Attorno al 330 Martino, giovanissimo e soldato, si trova nelle Gallie. È in quel periodo che ad Amiens avviene l’episodio del mantello cui sono legate da sempre la storia e l’iconografia di Martino.
***
Quando nasce, il padre, militare di carriera, lo segna con quel nome, Martino, che vuol dire “piccolo Marte”, legandolo dunque, nei suoi progetti almeno, al ruolo di soldato per tutta la vita. Martino, subito dopo il congedo militare e prima ancora di diventare prete, spinto da un sogno, si recherà in Pannonia per convertire i genitori: ci riuscirà con la madre, ma suo padre si dimostrerà irremovibile dalla fede pagana.
Proprio per seguire gli spostamenti del padre, si trasferisce a Pavia, cittadina operosa e aperta alle novità. Martino ha 10 anni; è qui che conosce il cristianesimo e, subito coinvolto, si iscrive al catecumenato.
Possiamo pensare che il padre non fosse contento di questa scelta e che ostacolasse il ragazzo in ogni modo. Infatti, sfruttando una piega del regolamento che consentiva di anticipare a 15 anni l’arruolamento obbligatorio (usualmente previsto per i 17 anni), il padre gli fa compiere il giuramento militare praticamente nello stesso giorno in cui Martino depone la toga pretesta, simbolo dell’adolescenza.
Martino è il figlio di un veterano e ciò gli conferisce dei privilegi: ha incarichi di sorveglianza e di ronda, soprattutto riceve soldo doppio.
È proprio durante uno dei suoi servizi di ronda che, ancora giovanissimo, trova alle porte di Amiens (nel frattempo si era trasferito nelle Gallie) il povero ignudo al quale regala metà del suo mantello.
Il grande poeta di Valdobbiadene, Venanzio Onorio Clemenziano Fortunato (535-603) che a Martino ha dedicato un poema in 4 libri, mette in bocca al giovane soldato parole che vanno diritte al cuore anche dell’uomo moderno: «Un po’ più di caldo a te, un po’ più di freddo a me ». Martino, dunque, non è il ricco che regala il superfluo: è un soldato che spartisce la piccola risorsa di cui dispone.
L’ignudo coperto dal mantello rimanda ad un altro episodio, meno noto, che accade a Martino quando è già vescovo. Un malato bussa alla porta e chiede di essere rivestito, ha freddo, batte i denti. Martino ordina ad un suo diacono di provvedere, ma questi non lo ascolta. Allora si avvicina all’uomo, si toglie la tunica e gliela mette addosso. Poi chiama di nuovo il diacono e gli ripete: «Guarda che c’è un uomo nudo».
Ma la nudità è, ora, la sua, a malapena celata dalla cappa episcopale. Stizzito, il diacono butta sulla strada una tunica di lana grossolana, fastidiosa ad essere indossata. Con grande umiltà e in silenzio, Martino se ne riveste e si avvia a celebrare messa. La leggenda vuole che, durante la consacrazione del pane e del vino, una luminosa fiamma circondasse le sue mani e il suo capo.
***
Nel periodo in cui accade l’episodio di Amiens, Martino riceve il battesimo. Non gli è possibile congedarsi, come certo vorrebbe, e anzi fa carriera perché viene chiamato a far parte delle alae scolares, cioè del corpo sceltissimo che costituiva la guardia dell’imperatore. Si dimostra soldato fedele e soprattutto buon camerata, aiutando ad esempio i compagni d’armi troppo veloci nel dilapidare la loro paga. Il servizio dura quasi venti anni.
A dire il vero, il suo biografo Sulpicio Severo, parla di due anni soltanto, fornendoci un dato chiaramente sbagliato.
Ma questo sbaglio, certo voluto, tradisce un disagio che accompagnò per tutta la sua vita Martino: l’aver militato nell’esercito imperiale dopo il battesimo era considerata una macchia per il cristiano. E nel 386, papa Siricio decreta, raccogliendo un’istanza largamente diffusa, che un soldato il quale avesse continuato la milizia dopo il battesimo, non potesse in alcun modo essere ammesso al clero. Nel 386 Martino è già vescovo da 15 anni, ma si può immaginare a quali difficoltà e ostilità andasse quotidianamente incontro, a cominciare dallo stesso sinodo episcopale.
Il suo congedo fu clamoroso e destò vasta eco.
Nel 354 l’imperatore Costanzo (ma computi diversi fanno risalire l’episodio alla militanza sotto un altro imperatore, Giuliano detto l’Apostata) fu impegnato nelle Gallie in una campagna militare contro gli Alamanni.
Prima della decisiva battaglia di Rauracum, nei pressi dell’odierna Basilea, come di consueto, l’imperatore distribuisce delle ricompense in denaro per spronare i suoi. Martino evidentemente è giunto al limite. Rifiuta il premio e, anzi, preannuncia che sta per chiedere il congedo.
Costanzo si infuria, cerca di dissuaderlo e, quando si rende conto che Martino è irremovibile nel suo proposito, lo fa gettare in catene.
Sarà proprio Martino, ordina, ad affrontare per primo il nemico, nella battaglia del giorno dopo. Insomma, un modo sicuro per votarlo alla morte.
Martino non dice nulla e il mattino seguente si presenta in prima linea, senza armi, senza elmo, senza lorica, senza scudo. Un bersaglio facilissimo, inoffensivo. E gli Alamanni, i terribili nemici, a quello spettacolo depongono le armi e chiedono la pace.
***

Comincia qui la seconda parte della vita di Martino, quella dedicata al Signore e al popolo.
Dopo il congedo, si reca a Poitiers, dove nel 353 era stato eletto vescovo Ilario. Anche lui era un convertito. Simpatizzano subito. Ilario sta combattendo una dura battaglia contro l’arianesimo, fortissimo nella parte orientale dell’impero e che l’imperatore Costanzo sta pesantemente appoggiando anche in occidente.
Ilario ha bisogno di uomini solidi, dalla personalità temprata e dalla fede senza crepe: propone a Martino il diaconato come premessa al sacerdozio.
Martino sa che quella è la sua strada, ma non si sente ancora maturo. Un giorno (dice che un sogno lo spinge a farlo) parte alla volta della nativa Pannonia dove vuole convertire i genitori. La madre accoglie la religione del figlio, il padre no.
Con qualche amarezza, Martino si accinge al ritorno. Sulla via che lo riconduce alle Gallie, si ferma a Milano dove viene a sapere che, dopo il concilio di Bèziers del 356, l’arianesimo ha intrapreso una vittoriosa offensiva anche in occidente. Non solo, ma il campione dell’ortodossia, il suo grande amico e protettore Ilario, è stato mandato in esilio e confinato nella lontana Frigia.
Martino si ferma a Milano, ma il vescovo locale, Aussenzio, molto vicino all’arianesimo (alla sua morte, nel 373, gli succederà Ambrogio) prende a perseguitarlo. Martino si ritira su un’isoletta davanti alla costiera ligure, Gallinaria, e trascorre un periodo di meditazione e preghiera.
Quando gli arriva la notizia che Ilario è tornato dall’esilio, decide di raggiungerlo. Il ricongiungimento tra i due amici avviene ancora una volta a Poitiers.
Siamo negli anni successivi al 360 e non vi è dubbio che proprio in questo periodo Martino sia stato fatto prima diacono e, subito dopo, prete. La vocazione di Martino alla vita monastica è fortissima: Ilario possedeva dei terreni e una casa a Ligugé, poche miglia fuori Poitiers.
Fu quello il nucleo del primo monastero europeo, dove Martino si trovò presto circondato da discepoli che dividevano la loro vita tra l’esperienza di evangelizzazione del territorio circostante e l’esperienza forte della “laura”. La laura era una forma di monachesimo mutuata dall’oriente, in cui i vari monaci conducevano vita eremitica e si radunavano solo in determinati momenti. La parola, che deriva da un termine greco-bizantino, indica una formula a metà tra la vita cenobitica in comune e l’eremitaggio che voleva i monaci isolati permanentemente l’uno dall’altro. Nella laura i monaci vivevano una esperienza eremitica avendo però dei momenti comunitari (i pasti e la liturgia, ad esempio). Sacra Scrittura e i testi dei grandi difensori della fede erano i libri su cui si formavano i monaci.
***
La fama di Martino è grande e si diffonde sempre più.
Narra il suo biografo che in questo periodo egli compie i suoi due primi, clamorosi, miracoli: risuscita un giovane catecumeno morto durante la sua assenza e lo schiavo di Lupicino, un ex-magistrato romano ritiratosi da quelle parti. Ogni volta Martino fa allontanare tutti e poi si distende per ore sul cadavere, abbracciandolo, quasi a voler comunicare la sua forza, la sua energia vitale al defunto.
Nel 371 muore Liborio, il vescovo di Tours, un centinaio di chilometri a nord di Poitiers, sulla Loira. Di Martino, come nuovo vescovo di Tours, si parla subito. Non mancano gli oppositori che tirano in campo la sua lunga carriera militare ma che temono, con ogni probabilità, il suo carisma e soprattutto il suo metodo innovativo.
Ma chi proprio non vuole sapere di una scelta puntata su Martino è lo stesso Martino. Fare il vescovo, lui lo sa bene, vuol dire non solo fare il pastore di un popolo ma anche rivestire una carica che comporta molte responsabilità civili. Lui si sente chiamato alla vita solitaria, di meditazione. Le traversie del suo amico Ilario sono lì ad ammonirlo. Quando qualcuno gli avanza la proposta, lui dice che proprio non se la sente.
È a questo punto che interviene Rusticio.
***
Rusticio è un contadino di cui nulla sappiamo perché il suo nome appare solo a questo punto della vicenda esistenziale di Martino. Va a trovare il santo taumaturgo a Ligugé e gli racconta che sua moglie sta molto male, è in punto di morte anzi. Martino si mette in cammino, non può sottrarsi alla richiesta. Ma quella che lo aspetta è un’imboscata. Sulla strada di Tours un gruppo di cristiani lo imprigiona, lo porta nella città turrita e non lo libera fino al momento in cui lui non accetta di candidarsi all’episcopato. L’opposizione degli altri vescovi continua, ma Martino viene eletto per acclamazione dalla gente di Tours. Cominciano così i 26 anni di un episcopato destinato a segnare la storia europea di quel secolo e dei secoli successivi.
Di fatto Martino reinventò e fondò per sempre ruolo e funzioni del vescovo. Lui che aveva come ideale di vita il modello monastico e l’isolamento che questo comporta, si diede ad evangelizzare le campagne come mai era accaduto.
Bisogna tener presente che nel quarto secolo le Gallie erano praticamente tutte da cristianizzare.
Il cristianesimo era radicato in qualche centro urbano (tra cui Poitiers e Tours, appunto), nella Provenza, nelle altre zone che si affacciavano sul Mediterraneo e tra le popolazioni rivierasche della vallata del Rodano. Le campagne erano ancora largamente permeate li padroni, prefigurazione di quella servitù della gleba che fu per secoli vera e propria schiavitù.
Il contadino era gravato e vessato da una serie infinita di tasse, balzelli, tributi che molto spesso non era in grado di pagare. Gli insolventi venivano perseguiti da funzionari che giravano per il territorio a capo di un vero e proprio esercito con l’incarico di esazione delle tasse. Chi non poteva pagare veniva imprigionato, torturato e anche mandato a morte. I supplizi e le esecuzioni avvenivano in pubblico perché fossero di esempio.
I biografi raccontano l’esemplare vicenda che vide protagonisti Martino e Aviziano (e Aviziano appare, ai lettori moderni, come singolare anticipazione del padrone che impone lo scomio ai suoi contadini).
Aviziano era proprio uno di questi funzionari, un comes. Il titolo di comes (conte, cioè, vero e proprio preludio al feudalesimo) era stato introdotto nel 330 da Costantino per spazzare via e sostituire con un unico titolo tutti i titoli (con relative e non sempre chiare attribuzioni) della pletorica burocrazia imperiale.
Nel caso di Aviziano, siamo di fronte ad un plenipotenziario che aveva come unico scopo quello di riempire le esangui casse imperiali.
Un giorno Aviziano si presenta sotto le mura di Tours con il suo esercito e una lunga fila di prigionieri avvinti da pesanti catene.
Qualche traditore, alcuni disertori, magari diventati briganti, molti contadini insolventi. Capelli lunghissimi, braccia così scheletriche che perfino i ceppi sono larghi, visi tanto emaciati che è impossibile riconoscerli. Non hanno nemmeno lacrime da piangere. Piangono invece quelli che li vedono sfilare. Fratelli, sorelle, genitori, amici, tutti minacciati, prima o poi, di egual sorte.
Il corteo attraversa Tours, tragico monito per tutti. Aviziano prende possesso della sede a lui riservata e ordina che siano apprestati strumenti di tortura e supplizio per il giorno dopo.
Troppo per Martino, inaccettabile.
Il vescovo è già vecchio, gli costa muoversi ane penetrate dal paganesimo. L’autorità del vescovo, di fatto, si esplicava solo nel contesto urbano. Fuori delle mura della città, la sua autorità era nulla.
E serve aggiungere che l’unica realtà nelle campagne era dettata dal rigido rapporto tra padroni latifondiari e coltivatori assoggettati a ta- che perché sa che lo attende una prova terribile, un confronto che gli prosciugherà ogni stilla di energia. I biografi raccontano la vicenda tra realismo e leggenda. Martino si trascina davanti alla porta del palazzo di Aviziano. Si stende per terra. Aspetta e prega.
Un angelo visita nel sogno Aviziano, gli dice che il santo vescovo, il taumaturgo potente di cui tutto il mondo parla, colui che ha colloquio diretto con gli angeli e perfino con Dio, è disteso fuori della porta, sulla nuda terra. Come può Aviziano dormire tranquillo mentre il santo Martino patisce il freddo della notte e della stagione? Aviziano si desta, urla ai servi che vadano ad aprire, ma essi non vedono nulla. Tra loro corre un sorriso di scherno. Quell’Aviziano sta proprio invecchiando, si fa impressionare dai sogni notturni, si dicono.
Aviziano riprende a dormire e l’angelo torna a visitarlo. Questa volta il conte va personalmente ad aprire la porta e scorge Martino disteso. È toccato nel profondo del cuore, il crudele Aviziano.
Guarda Martino e gli dice: «Tu hai trasformato un accusatore in un accusato. Ero io che dovevo torturare questa gente e invece sei tu che torturi me. Mi sconfiggi, ma non combatti ad armi pari. Tu hai Dio con te, io sono solo».
Martino non proferisce parola. Si alza e si allontana.
Il mattino seguente Aviziano chiama i suoi subalterni.
Fa aprire prigioni e gabbie, libera tutti i prigionieri e si allontana da Tours.
Certo, tra leggenda e storia. Ma Martino quando qualcuno gli faceva qualche offerta, magari per una miracolosa guarigione, non rifiutava e destinava il denaro ai debiti dei contadini insolventi o, in altri casi, al riscatto di qualche prigioniero, catturato dalle popolazioni barbariche del nord.
***
Martino ha capito che Aviziano ha un suo disagio interiore, un tormento profondo nell’anima.
Che non è un persecutore rozzo e sordo ai lamenti. Trova il modo (e i biografi risolvono l’episodio nei modi mitici e leggendari del duplice intervento angelico) di acuire il suo disagio, di farlo salire alla superficie dell’anima.
Incontrerà ancora Aviziano, Martino, e lo libererà da un demonio che gli sta sul collo. Di colpo Aviziano, alleggerito di quella presenza demoniaca, si troverà a non essere più l’implacabile giudice, persecutore del popolo. Sentirà pace e mitezza entrare nel suo cuore. Martino aveva anche questo tipo di attenzione.
E del resto la sua azione pastorale non si fermava certo qui, a questi atti in qualche modo appariscenti, clamorosi.
Martino l’innovatore, Martino il vescovo che sente troppo stretto, soffocante anzi, il piccolo ambito dei bastioni cittadini. Tutto l’episcopato di Martino è caratterizzato dalla istituzione di parrocchie rurali.
Spesso si pone l’accento sulla lotta di Martino al paganesimo.
Una volta distrusse un tempio dedicato alle divinità pagane. In un’altra occasione ottenne che fosse abbattuto un albero sacro in mezzo alla ostilità della popolazione pagana. Qui si sottopose ad una sorta di “giudizio di Dio”: per dimostrare la sua forza spirituale, fece abbattere l’albero ponendosi nella traiettoria di caduta e riuscendo a fermarlo a mezz’aria.
Inutile dire che ottenne una conversione in massa. Ma questa lotta di Martino al paganesimo non è la sterile battaglia di chi vuole distruggere una cultura per sostituirla con una cultura aliena.
È piuttosto la motivazione fondante di una strategia pastorale volta ad una promozione complessiva della realtà contadina del suo territorio.
Sa bene che istituire parrocchie non basta. Martino pensa allora alla formazione dei preti. Sceglie una spianata, un po’ fuori le mura di Tours, a Marmoutier, uno spuntone di roccia a picco sulla vallata della Loira.
Ancor oggi si possono vedere a Marmoutier le rovine dell’abbazia che Martino vi fece costruire.
Quel luogo divenne il cuore della diocesi.
Intere generazioni di monaci vi si formarono.
Il sistema era quello sempre quello della “laura”, già sperimentato a Ligugé.
E Martino, inoltre, girava in continuazione tra le parrocchie della sua diocesi. Le assidue visite pastorali furono forse la caratteristica più appariscente del suo episcopato. Viaggiava a piedi, a dorso di mulo, in barca. Nei villaggi, meta delle sue visite, si faceva preparare un giaciglio nella sacrestia. Quando se ne andava, le pie donne del villaggio si dividevano la paglia del giaciglio, convinte che avesse assorbito dal santo un potere miracoloso.
Del resto la fama di guaritore di Martino era immensa anche perché riusciva a curare a distanza.
Un nobile gallo-romano, Arborio, nipote del famoso poeta Decimo Magno Ausonio, guarì la figlia ammalata di febbre quartana, semplicemente mettendo sul corpo della bambina una lettera scritta da Martino.
E a una donna che soffriva i gravi emorragie bastò toccare la frangia della sua veste per essere guarita: trasparente rivisitazione della guarigione dell’emorroissa nell’episodio evangelico narrato da Luca (8, 43-48) e da Marco (5, 25-34), quando Cristo dice «Qualcuno mi ha toccato, perché io ho sentito che una virtù è uscita da me».
A dispetto della sua fama, durante i suoi trasferimenti Martino era soggetto a tutti i rischi di chi viaggiava in quel tempo: briganti e imboscate.
Prese più di qualche legnata, ma finiva invariabilmente col convertire i suoi aggressori.
La situazione in cui maggiormente egli dovette riflettere sulla sua idea di Chiesa fu, in ogni caso, la questione connessa al teologo Priscilliano.
***
Priscilliano era spagnolo, nativo di Avila (345 ca). Divenne famoso con le sue ardenti predicazioni che proclamavano la necessità di compiere nella vita scelte di rigorismo ascetico. Fu fatto vescovo della sua città, ma ad un certo punto cadde in sospetto di eresia. Era accusato di essersi avvicinato al manicheismo e di praticare la magia a scopi delittuosi. Qualche decennio più tardi, a dimostrazione di una avversione mai sopita, un altro spagnolo, Paolo Orosio, scriverà in un suo promemoria ad Agostino: «Priscilliano è uno sciagurato peggiore dei manichei perché pretende di confermare la sua eresia anche attraverso il Vecchio Testamento».
Il processo contro Priscilliano e suoi seguaci fu istruito a Bordeaux in un concilio appositamente convocato. Priscilliano si rifiutò di comparire e si appellò all’imperatore Massimo.
Era di fatto una persecuzione che provocò lo sdegno di Martino che, pur non condividendo del tutto le idee di Priscilliano, aveva orrore del fatto che una questione dottrinaria fosse trattata in questo modo rozzo, che fosse strumen- talizzata e soprattutto che una persona di cui egli avvertiva la profonda onestà morale fosse condannata a morte - perché questa era la pena prevista - per le sue idee anche se eretiche.
Scese in campo, il vescovo di Tours, proclamando ad ogni occasione il suo dissenso.
Martino era circondato dall’ostilità di molti vescovi dei dintorni. Dato il rigore della vita ascetica che conduceva e che imponeva ai suoi monaci (molto spesso di buona famiglia, proclivi a comportarsi secondo i modi raffinati della nobiltà e dunque talora restii a sottoporsi a regole durissime) apparve, in qualche modo, complice di Priscilliano.
Ma in realtà era un pretesto per attaccarlo o quanto meno per metterlo sulla difensiva: troppo innovativo era il suo metodo, tutto basato su una continua e progressiva missionarietà.
Troppo accentuato il suo stare con gli umili: ogni suo atto suonava come condanna e critica agli altri vescovi.
L’occasione che lo vedeva schierato a fianco di Priscilliano pareva la migliore possibile per dichiarargli guerra. Il processo presieduto dall’imperatore Massimo si tenne a Treviri (l’attuale Triers, sulla Mosella, nel tedesco land Renania-
Palatinato). Quando Martino vi giunse, sembrò inizialmente ottenere un buon successo: fece differire il dibattimento e ottenne da Massimo che mai si sarebbe, in ogni caso, arrivati alla condanna a morte.
Tranquillizzato, Martino lasciò Treviri, ma dopo la sua partenza il partito a lui contrario, capeggiato dal vescovo spagnolo Ithace, riuscì a far cambiare idea all’imperatore. Priscilliano fu giustiziato assieme a sei suoi seguaci.
Secondo la testimonianza di san Girolamo, fu il primo a patire la pena capitale per eresia.
Spiazzato e confuso, Martino venne a trovarsi al centro di una questione politica, prima ancora che religiosa, per lui del tutto nuova. L’esecuzione di Priscilliano di fatto autorizzava e legalizzava la persecuzione contro i priscillanisti in Spagna. Era, nella pratica, un attacco in grande stile all’ideale di vita ascetico e alle correnti che volevano la Chiesa povera e schierata con gli umili.
I funzionari di Massimo si scatenarono in Spagna: una vera e propria caccia all’uomo.
Bastavano, racconta Sulpicio Severo, un sospetto e perfino un abbigliamento non giudicato idoneo per arrestare uno come eretico.
«Era sufficiente uno sguardo per emettere un giudizio», dice con molta crudezza il biografo di Martino.
I vescovi contrari a Martino gli avevano dunque dichiarato guerra, ma non potevano, nello stesso tempo, fare a meno del suo prestigio, del suo enorme ascendente su tutto il territorio delle Gallie. E la persecuzione contro i priscillanisti si rivelò per quello che voleva essere: un vero e proprio intrigo per incastrare Martino.
Il quale si trovò davanti ad un bivio: o faceva pubblico atto di entrare in comunione con i vescovi suoi avversari (di fatto avallando la condanna e l’esecuzione di Priscilliano) o la persecuzione contro i priscillanisti non si sarebbe fermata. Già i funzionari imperiali avevano le prigioni piene e aspettavano solo l’ordine di cominciare il massacro.
In quelle ore si doveva consacrare un nuovo vescovo.
A Martino si chiedeva di partecipare alla cerimonia di consacrazione assieme agli altri vescovi. Sarebbe stato un segnale pubblico di comunione.
Martino, per scongiurare la strage, piegò la testa e arrivò ad un accordo, anche se solo formale.
Cedette per quel giorno, apparì in pubblico per la consacrazione, ma non volle mai firmare alcun documento.
Quel compromesso gli pesò addosso, come un terribile fardello morale, per tutta la vita.
***
Del resto capitò più volte a Martino di confrontarsi col potere. In ogni occasione ci teneva a ribadire l’autonomia della Chiesa rispetto all’impero e ad ogni altra istituzione civile.
Strano e complesso il rapporto col potere civile: chi lo deteneva, magari osteggiava idee, comportamenti e atteggiamenti di Martino, ma non poteva figurare di mettersi apertamente in contrasto con lui, col suo immenso carisma, col suo assoluto ascendente e, perché no?, anche con i suoi miracolosi (e dunque temibili) poteri.
Parlava con gli angeli, Martino, confondeva i diavoli in qualunque modo si presentassero e si travestissero. Una volta smascherò clamorosamente un monaco aggregatosi casualmente alla sua comunità, Anatolio, che sosteneva di essere in contatto diretto con il Figlio di Dio: lo costrinse ad una figuraccia davanti a tutti.
Martino era poi profondamente, visceralmente amato, umile tra gli umili. Guariva la malattia dei malati più immondi, i lebbrosi, baciando le loro piaghe.
Impossibile, davvero, per i potenti non fare i conti con l’ingombrante e fortissima personalità di Martino.
Ebbe modo di scoprirlo a sue spese, l’imperatore Massimo (usurpatore e assassino ma, nel complesso, buon amministratore), quello che fece condannare Priscilliano.
Approfittando della presenza di Martino a Treviri per il processo, lo invitò un giorno nel suo palazzo imbandendo un pranzo e una festa straordinari. Massimo voleva, a suo modo, davvero onorare il santo ospite con un evento eccezionale, ma naturalmente Martino si accontentò di molto poco, evidenziando anche grande disagio.
La prima coppa di vino viene porta, come di prassi, dal cantiniere a Massimo. Ma l’imperatore fa segno che sia offerta a Martino: lui, l’imperatore, berrà per secondo ricevendo la coppa proprio dalle mani del santo vescovo. Una sorta di legittimazione, in un certo qual modo.
Martino beve e poi, nel silenzio e nel disagio generali, porge la coppa al giovane prete che lo accompagnava sempre. Martino osa fare alla mensa dell’imperatore quello che nessuno oserebbe fare alla mensa del più basso magistrato.
I biografi sottolineano l’importanza del gesto: una affermazione dell’autonomia della Chiesa e della sua superiorità sull’Impero.
Per buona giunta Martino predice a Massimo la sua prossima e terribile fine: di lì a pochissimi anni, infatti, fu tradito ad Aquileia dai suoi soldati e trucidato da Teodosio.
***
Martino visse più di ottant’anni in un’epoca in cui l’età media non arrivava ai quaranta. Attraversò un secolo di sangue, lotte, invasioni. Di violente contrapposizioni religiose, di intrighi, di vessazioni e ingiustizia. Il suo comportamento fu sempre di grande generosità, di disponibilità assoluta, di apertura senza limiti ad un popolo che viveva nell’indigenza, nell’ignoranza, nella miseria e nella malattia.
Diede un segnale del suo animo a 15 anni, dividendo in due il mantello. Morì facendosi distendere su un giaciglio di cenere.
Venanzio Fortunato, che due secoli dopo dedicherà a Martino l’ultimo grande poema che la latinità abbia prodotto, lo descrive così: indulgente verso il peccato, presidio del perdono, rifugio dei colpevoli, speranza dei miserabili, persecutore del demonio, difensore dei fedeli, riscatto dei prigionieri, strada per chi si è smarrito e cura per chi è malato, guaritore di tutti, di tutti innamorato, di tutti irripetibile amico.
Molto di più di una devota litania. Un’apertura di credito morale, piuttosto, e un riconoscimento di valori che hanno segnato la storia.

Image L.Messi








Image C.Ronaldo








Tentang C.Ronaldo


C.Ronaldo Dulu bermain di sporting lisbon sekarang MU segala gelar ia dapat.
It won't be Cristiano Ronaldo, I repeat It won't be Cristiano Ronaldo" adalah kalimat penutup siaran langsung pertandingan semi final Portugal melawan Prancis di ITV.
Dan keesokan harinya, seluruh surat kabar Inggris memuat foto Cristiano Ronaldo menangis usai pertandingan. "You're not winking anymore," begitu headline halaman olahraga The Sun dan the Mirror, menyindir C.Ronaldo yang tampak jelas di TV Inggris mengedipkan mata ke rekan timnya dan Phil Scolari di bangku cadangan sesaat setelah Wayne Rooney mendapat kartu merah.
Kebencian Inggris kepada pemain bernomor punggung 17 itu tidak behenti saat Portugal kalah dari Prancis.
Kini di Inggris muncul kampanye anti C.Ronaldo, di koran dan juga melalui website ihateronaldo.com yang kini menjadi the hottest website. (jika susah di buka, itu karena begitu banyaknya pengunjung, just keep trying)
Bahkan juga dijual kaos bertuliskan I Hate Ronaldo dengan harga 16 poundsterling.
Continue reading "ihateronaldo.com" »
July 07, 2006 in Sports Comments (14) TrackBack (0)
July 05, 2006
It won't be C.Ronaldo and co

July 05, 2006 in Sports Comments (2) TrackBack (0)
The best match, so far..

It took until the 119th minute to beat Jens Lehmann and co.

July 05, 2006 in Sports Comments (3) TrackBack (0)
July 04, 2006
Germany and penalty
Jika dua pertandingan yang tersisa, semi-final dan final berakhir dengan adu penalti dan melibatkan Jerman, kita bisa menebak dengan mudah siapa yang akan menang.
Kontras dengan Inggris, Jerman adalah master untuk penalti, seperti halnya Italia dikenal sebagai master of defence. "They are masters at it, masters of winning on penalties .." kata Gary Neville dan nobody will argue.
Bang.Bang.Bang.Bang. Gol.Gol.Gol.Gol. Efektif, efesien, seakan tanpa perasaan.
Continue reading "Germany and penalty" »
July 04, 2006 in Sports Comments (2) TrackBack (0)
July 03, 2006
What do you think ?
Jika tidak bisa melihat video di atas, silakan klik DI SINI
"I think there's every chance that Wayne Rooney could go back to the Manchester United training ground and stick one on Ronaldo because he hasn't helped him there (Alan Shearer)
Continue reading "What do you think ?" »
July 03, 2006 in Sports Comments (3) TrackBack (0)
Rooney red card
Untuk Lebih jelasnya ke link aja






Tentang Kaka'



" Ricardo Izecson dos Santos Leite (lahir 22 April 1982 di Brasília), lebih dikenal dengan nama Kaká, adalah seorang pemain bolasepak Brasil yang kini menyertai Kelab AC Milan (bergabung tahun 2003; sebelumnya pada 2001-2003 di São Paulo). Kaká umumnya bermain di posisi serangan ataupun penyerang. Ia dikenal mempunyai dribble yang sangat baik serta umpan-umpan yang akurat. Tinggi badannya ialah 186 cm.Kaká berkahwin dengan Caroline Celico pada 23 Desember 2005 di sebuah gereja di São Paulo, Brasil.Kaká dilahirkan di Brasília, Brazil pada 22 April 1982, dia merupakan anak dari pasangan Simone Cristina dos Santos Leite dan Bosco Izecson Pereira Leite. Kaká mempunyai adik laki-laki, Rodrigo, yang dikenal sebagai Digão, yang mengikuti langkahnya bermain bola di Itali.Nama panggilannya Kaká, diambil dari bahasa aslinya, Portuguese, yang diucapkan seperti ejaannya, dengan penekanan pada suku kata kedua yang ditandai dengan aksen. Itu biasa dipakai untuk menyingkat nama "Ricardo" di Brazil, bagaimanapun juga, Kaká mendapatkan nama panggilannya dari adiknya, Rodrigo, yang tidak pandai menyebut "Ricardo" ketika mereka masih kecil. Rodrigo memanggil abangnya "Caca" yang kemudian berganti menjadi "Kaká".Pada bulan September 2000, di usia 18 tahun, Kaká mengalami ancaman pada kariernya dan kemungkinan patah tulang belakang yang menyebabkan lumpuh sebagai akibat kemalangan di kolam renang. Hal yang terburuk tidak terjadi dan Kaká pulih sepenuhnya dari insiden itu. Dia bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhannya dan sejak saat itu ia menyumbangkan penghasilannya untuk gerejanya.1. Karier1.2 Karier KelabKaká menandatangani kontrak dengan São Paulo pada usia 15 tahun dan memimpin pasukan junior pada kemenangan ‘Copa de Juvenil’. Ia memulai debutnya di São Paulo FC tahun 2001 ketika di berusia 18 tahun. Pada musim pertama, dia menyumbat 12 gol dalam 27 perlawanan dan 10 gol dalam 22 perlawanan di musim berikut. Pada usia 17 tahun, ketika ia masih dalam pasukan junior, Sao Paulo berniat menjual Kaká ke pasukan dari Liga division 1 Turki, Gaziantepspor. Transaksi tidak terjadi, kerana pengurus Gaziantepspor, Nurullah Sağlam menolak untuk membayar $1.5 juta untuk pemuda 17 tahun itu. Setelah menyertai dengan pasukan senior São Paulo FC, penampilan Kaká berjaya menarik perhatian kelab-kelab di Eropah.Dia menyertai AC Milan dengan bayaran US $8.5 juta, jumlah yang dianggap ‘sedikit’ oleh pemilik kelab Silvio Berlusconi. Dalam sebulan, dia telah menyertai pasukan utama dan sejak saat itulah ianya menjadi permulaan pada kariernya. Kemunculannyanya di Serie A adalah ketika Milan bertandang menentang Ancona dengan kemenangan 2-0. Dia menghasilkan 10 gol dalam 30 perlawanan pada musim itu, AC Milan memenangi Italian Serie A Championship dan European Super Cup.Kaká adalah bahagian inti dari lima orang pemain tengah pada musim 2004-2005, biasa bermain dalam withdrawn role dibelakang striker Andriy Shevchenko. Dia menyumbat 7 gol dalam 36 pertandingan liga dan juga memenangi Italian Super Cup bersama dengan klubnya. Milan meraih posisi kedua setelah Juventus di Seri A dan dalam partai final dengan Liverpool pada adu penalti di UEFA Champions League.Salah satu gol Kaká yang sangat menakjubkan adalah ketika melawan Fenerbahçe SK di perlawanan pertama AC Milan dalam 2005-06 Champions League, menentang Rossoneri dan menang 3-1. Gol itu membuatnya disamakan dengan Diego Maradona kerana Kaká memulai lariannya dari tengah lapangan dan melewati tiga tackling sebelum memasuki kawasan penalti dan menyelesaikannya dengan shot rendah di bawah penjaga gol Fenerbahçe, Volkan Demirel.Pada 9 April 2006, ia membuat hat-trick pertamanya dalam pertandingan melawan Chievo Verona. Ketiga golnya dihasilkan pada babak pertama. Pada 2006, Real Madrid menunjukkan minat pada bintang 24 tahun ini, tetapi Milan dan Kaká menolak. Kaká telah menandatangani kontrak dengan Milan hingga 2011.Pada 1 November 2006, AC Milan lolos babak penyisihan UEFA Champions League setelah Kaká membuat hat-trick yang membantu teamnya menang 4-1 melawan RSC Anderlecht. Ini adalah hat-trick keduanya di Milan dan hat-trick pertamanya di peringkat Eropah.1.3. Karier antarabangsaKaká melakukan debut antarabangsanya pada bulan Januari 2002 dalam perlawanan menentang Bolivia. Dia adalah bahagian dari pasukan negara yang menang pada Piala Dunia 2002 tetapi aksinya tidak terlalu kelihatan kerana hanya bermain 19 minit di babak pertama menentang Costa Rica. Pada tahun 2003, dia menjadi ketua pasukan dalam Tournament Gold Cup di AS dan Mexico, memimpin Brazil ke tangga kedua dan membuat gol yang menentukan dalam perlawanan menentang Colombia. Setelah itu, dia beraksi di Confederation Cup 2005, dengan Kaká mencipta gol kemenangan dalam perlawanan akhir menentang Argentina. Dia berhasil mendapat tempat ke-10 dalam undian penghargaan untuk FIFA World Player of the Year 2004. Pada pemilihan tahun 2005, dia naik dua peringkat lebih tinggi. Terakhir, ia membantu Brazil dalam penyertaan pada Piala Dunia 2006. Kaká semakin matang sebagai pemain dan dianggap sebagai salah satu pemain bolasepak terbaik dari Brazil. Dia mencatatkan gol pertama Brazil di Piala Dunia 2006 pada perlawanan menentang Croatia pada 13 Jun 2006. Pada 3 September 2006 dia menyumbangkan salah satu gol tercantik untuk pasukan Brazil setelah melakukan umpan yang membuahkan gol kepada pemain yang baru masuk, Elano. Kaká mendapat bola dari pantulan corner kick Argentina, dan mengambil bola dari ¾ lapangan lalu menyumbat gol. Pada 15 November 2006, Kaká dipilih sebagai ketua pasukan Brazil dalam perlawanan persahabatan menentang Switzerland kerana ketiadaan ketua pasukan Brazil sebelumnya, Lucio disebabkan oleh kecederaan.1.4. Piala Dunia 2006Pada pertandingan pertama Brazil dalam Kumpulan F, Kaká menyumbat gol di minit ke-44 saat melawan Croatia. Sepakan kaki kiri dari jarak 25 meter membuat Brazil meraih kemenangan 1-0. Media menganggap Kaká sebagai satu-satunya anggota dari "magic quintet" – Adriano, Kaká, Ronaldo, Robinho dan Ronaldinho –yang dihasilkan dalam perlawanan itu. Dan juga ketika melawan Ghana dia mencatatkan dirinya dalam sejarah dengan mengumpan kepada Ronaldo, yang akhirnya menghasilkan gol sehingga Ronaldo memecahkan rekor Gerd Müller, gol terbanyak di Piala Dunia. Kaká ternyata tidak dapat meneruskan peluang ke perlawanan selanjutnya dan Brazil dikalahkan oleh Perancis di quarter final.Kehidupan peribadiKaká berkahwin dengan Caroline Celico di Gereja pada 23 Desember 2005, dua tahun setelah perpindahan Kaká dari Sao Paulo ke Milan. Caroline dilahirkan pada 26 Juli 1987, anak dari Rosangela Lyra, direktor Dior di Brazil dan Celso Celico, seorang pengusaha. Dia dan Kaká bertemu pada tahun 2001 ketika ia masih seorang menjadi seorang siswi dan Kaká masih bermain untuk São Paulo Football Club. Perkahwinannya dihadiri 600 orang, termasuk rakan-rakannya: Cafu, Ronaldo, Adriano, Dida, Júlio Baptista dan juga pengurus Brazil, Carlos Alberto Parreira.Kaká adalah seorang penganut Kristen yang taat.Dia dikenali suka memakai Christian gear dari dulu: dia pernah memakai T-shirt dengan tulisan "I Belong to Jesus" dalam beberapa pertandingan, seperti saat meraikan kemenangan Brazil di Piala Dunia 2002, dan perayaan Scudetto Milan pada Mei 2004. Dia menggunakan kasut yang ditambah dengan tulisan pada lidah kasutnya. Tiap kali ia menyumbat gol dia menunjuk dengan jari-jarinya ke langit sebagai tanda terima kasihnya kepada Tuhan dan mungkin ini yang pertama bagi seorang pemain bolasepak yang di levelnya: Dia bangga bahwa dia masih teruna ketika dia kahwin.(hehehe)Anda perlu tahu bahwa tidak seperti kebanyakan pemain bolasepak yang lain, minuman yang disukai Kakà hanyalah air kosong dimana kebanyakan pemain lebih suka minum minuman-minuman keras sambil berpesta di bar. Walau pernah diejek rakan-rakannya, dia tetap berpegang pada pendiriannya sehingga akhirnya dihormati teman-temannya, kesukaanya mendengar musik gospel juga aneh di kalangan pemain yang lain. Dia sangat mengidolakan penyanyi gospel Brazil, Aline Baros. Hal ini pulalah yang dulu membuat hubungan Kakà dan Andriy Shevchenko sangat dekat, Shevchenko juga seorang peribadi religious sehingga Kakà merasa begitu dekat dengannya, namun hubungan itu telah terputus setelah Shevchenko pindah ke Chelsea musim ini, tetapi Kakà masih berhubung dengan Shevchenko. Kakà sangat menyukai warna putih yang melambangkan kesucian serta ketulusan. Kakà sangat suka berdoa, bahkan ia sering mengajak rakan-rakannya turut berdoa. Kakà termasuk seorang yang menggilai kereta Ferarri, ia suka dengan modelnya yang sporty dan elegan. Kakà juga meminati aktor Tom Hanks.