Selasa, 18 Desember 2007

Tentang PSSI


Football Legends" MemukauINDONESIA

Jakarta, Kompas - Kualitas teknis para mantan pemain sepak bola profesional dunia yang tergabung dalam tim football legends masih mampu mengundang tepuk tangan sekitar 10.000 penonton yang menyaksikan pertandingan amal mereka melawan tim Indonesia All Stars di Gelora Bung Karno, Senayan, Selasa (1/3). Meskipun sebagian pemainnya telah dimakan usia, Carlos Dunga dan kawan-kawan berhasil mengungguli Indonesia All Stars yang diperkuat para pemain dan mantan pemain nasional Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand, dengan angka 4-3 (2-1).

Acara ini sedianya dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, Presiden akhirnya batal hadir.

Tiga dari empat gol tim legenda sepak bola itu dicetak mantan pemain Liverpool, Mark Walters, satu di antaranya dari titik penalti. Satu gol lagi diciptakan lewat tendangan terarah mantan play maker tim nasional Bolivia, Marco "El Diablo" Etcheverri.

Gol pertama Indonesia All Stars dicetak oleh gelandang Syamsul Bachri di babak pertama. Mantan bintang Thailand Piyapong Pue On mencetak satu gol di babak kedua, dan Widodo Cahyono Putro mencetak gol ketiga lewat tendangan voli.

Dengan dipimpin oleh Dunga, kapten tim Brasil saat menjadi juara dunia 1994, para pemain yang mencapai masa jayanya di dekade 1980-an dan 1990-an ini menunjukkan penguasaan bola yang prima. Meskipun tempo permainan berjalan lambat, aliran bola berjalan lancar.

Etcheverri memainkan perannya sebagai pengatur serangan dengan baik, didukung pergerakan lincah Walters di kiri dan pemain Brasil Osmar Donizete di kanan. Walters, yang berusia 41 tahun, berkali-kali melewati penjagaan bek asal Malaysia Zainal Abidin Hassan. Begitu pula Donizete sering kali lepas dari pengawalan bek timnas yang usianya jauh lebih muda, Hamka Hamza.

Di sisi lain, Kurniawan Dwi Yulianto dan Ilham Jaya Kesuma beberapa kali mengancam gawang Luis Islas. Namun, pengalaman Julio Olarticochea dan kawan-kawan mampu menutup daerah penalti dari serbuan pemain Indonesia.

Rasa salut terhadap penampilan pemain-pemain football legends ini disampaikan pula oleh mantan pemain nasional Indonesia Ricky Yacobi. "Di luar dugaan, mereka masih cukup bagus," komentarnya.

Menurut Ricky, masih baiknya penampilan Careca dan kawan-kawan berawal dari kedisiplinan mereka sebagai pemain sepak bola profesional. "Hal inilah yang dapat dicontoh bagi pemain sepak bola kita. Bagi saya sendiri, bermain dalam pertandingan tadi menjadi sebuah kehormatan," ujar pemain nasional era 1980-an ini.

Salah satu bukti itu dapat terlihat dari penampilan Dunga. Hanya sekitar 24 jam tiba di Jakarta, penampilan Dunga cukup stabil untuk bermain selama 77 menit dalam pertandingan kemarin.

Sayang, meski pertandingan itu melibatkan mantan-mantan pemain dunia, sambutan dari masyarakat Indonesia tampak kurang. Kemeriahan dari sekitar 10.000 penonton yang hadir di stadion tak tampak. Pembawa acara Dik Doank, bahkan, harus meminta penonton, yang sebagian besar di antaranya anggota Jakmania itu, untuk meramaikan suasana.

Tentang Zinedine Zidane

TENTANG Zinedine Zidane

Zinedine Zidane: Superstar yang Rendah Hati

Dunia sepakbola tak pernah berhenti melahirkan bintang-bintang besar, tak terkecuali pemain berbakat yang satu ini. Zinedine Yazid Zidane. Lelaki keturunan Al-Jazair ini telah mucul sebagai superstar dunia sejak mengantarkan negaranya, Perancis sebagai Juara World Cup 1998. Kepiawaiaan Zizou (panggilan Zidane) dalam mengolah bola tak lagi diragukan . Ia pernah beberapa kali menjadi pemain terbaik dunia dan juga memberikan kontribusi yang besar bagi Perancis serta klubnya, Real Madrid dalam memenangkan berbagai kejuaraan.

Berasal dari Kawasan Kumuh

Zidane lahir di La Castellane, suatu kawasan kumuh di pinggiran kota Marseille. Kebanyakan penghuninya adalah imigran dari Aljazair, Maroko dan negara-negara jajahan Perancis lainnya. Kota ini terkenal sebagai kota paling kriminal di Perancis. Meskipun begitu, penduduk kota ini amat menggemari musik dan sepakbola.

“Aku beruntung lahir dari komunitas bermasalah. Itu mengajari kami bukan hanya sepakbola tapi terutama kehidupan. Banyak anak dari berbagai ras dan keluarga di sini. Kami harus bekerja keras untuk menghadapi hidup. Musik sangat penting tapi sepakbola adalah bagian yang paling gampang untuk ditekuni.” ujar Zidane

Setelah menjadi superstar, Zidane tak pernah “lupa kacang pada kulitnya.” Orang tua dan keluarga besarnya masih tinggal di sana. Anak-anak La Castellane juga sangat dekat padanya dan tidak sungkan-sungkan mendekati ketika Zizou berkunjung ke sana Orang-orang yang biasanya takut mendengar La Castellane menjadi antusias terhadap kota tersebut.

Santun dan Bersahaja

Zizou dikenal sangatlah santun terhadap publik. Ia memang rendah hati dan agak pemalu. Ia pun tak pernah bikin ulah di lapangan dan selalu menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan setimnya. Kerendahanhatinya terungkap dari kata-katanya, “Sungguh luar biasa bagi kami. Kami keluarga yang datang dari ketiadaan dan kini dihargai seluruh warga Perancis.”

Nilai transfer yang tinggi dan bayaran iklan yang mahal tak membuat Zidane ikut-ikutan bergaya hedonis seperti bintang sepakbola lainnya.Kalau ada waktu luang, ia lebih suka menghabiskan waktu bersama istrinya, Veronique dan ketiga anaknya. “Semua anakku pintar bermain bola. Aku suka mereka ikut tim (sepakbola), tapi mereka harus berlatih keras dulu, seperti aku,”ujar Zidane.

Zidane pun selalu antusias berpartisipasi dalam acara-acara amal. Ia banyak membantu dalam Luis Figo Foundation, yayasan sahabatnya yang menggalang dana untuk anak-anak miskin serta FIFA Foundation For The Children. Iapun tak pernah lupa tanah leluhurnya, Al-Jazair, di sana ia menjalani kegiatan football summer camp dengan anak-anak yang kurang mampu. Ketika negara itu tertimpa gempa bumi besar-besaran, Zidane langsung segera menggalang dana bantuan dari para pesepakbola untuk para korban gempa bumi.

Mengikis Ketegangan Etnis di Perancis

Tak dapat dipungkiri bahwa Perancis masih menyimpan berbagai masalah ketegangan etnis. Larangan pemakaian jilbab, pembatasan jumlah masjid dan kuil, serta pernyataan sinis seorang politisi Perancis yang sangat rasialis terhadap kemenangan timnas sepakbola Perancis adalah indikator yang sangat nyata terlihat oleh dunia. Zidane sendiri pun secara terus-terang mengungkapkan bahwa ia lebih suka tinggal di Madrid. Selain karena penduduknya lebih bersahabat, para fansnya pun tidak terpengaruh dengan ras atau kepercayaan. “Kota ini cocok sekali dengan kebudayaaan dan kepercayaan yang saya anut,” katanya. Walaupun Zidane mengakui bahwa ia bukan muslim yang taat bahkan kerap meninggalkan sholat tapi ia tetap menjaga teguh kepercayaannya itu.

Namun bagaimanapun juga sosok Zidane mampu mengikis ketegangan etnis di Perancis. Anggapan bahwa etnis Arab sebagai pengacau dan sampah bagi Perancis seketika sirna saat Zidane menjadi pahlawan Perancis pada World Cup 1998. Ia menjadi orang paling terkenal di Perancis, jutaan orang Perancis mengaguminya. Kehidupannya yang lurus, sikapnya yang rendah hati serta permainan bolanya yang fantastis telah memikat hati rakyat Perancis. Mereka tidak mempedulikan Zidane adalah warga keturunan Arab ataupun seorang muslim.

Dengan popularitasnya yang tinggi dan namanya yang amat berpengaruh, banyak politikus yang ingin memanfaatkan Zidane. Dalam menanggapi ini, Zidane menyikapinya dengan tak banyak bicara di media massa. Sehingga meskipun popular, selain gayanya di lapangan, publik Perancis tidak banyak mengenal Zidane. Ketika ditanya apakah ia naik haji pada awal 2004, ia hanya diam saja. Ia memang tidak suka ditanya mengenai kehidupan pribadinya terutama masalah agama yang sangat sensitif di Perancis..

Perjalanan Karir Tak Selalu Mulus

Bagaimanapun juga, seperti halnya manusia Zidane juga mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Salah satunya dalam karir sepakbolanya. Kekalahan Perancis di Piala Dunia dan Piala Eropa membuat Zidane dan para pemain Prancis lain mendapat kritikan pedas dari media dan masyarakat. Tapi Zidane yang pendiam itu memilih untuk diam saja menanggapi kritik-kritik tersebut. Bila mendapat kekalahan, Zidane hanya memfokuskan diri untuk berusaha menjadi lebih baik di pertandingan-pertandingan lainnya.

Zidane selalu tabah dalam menghadapi segala masalah di timnas maupun di klubnya, Real Madrid. Bahkan saat Real Madrid mengalami krisis dana, Zidane rela gajinya dipotong setiap bulannya. Zidane dapat memahami bahwa El Real sedang dalam masa-masa sulit, sehingga ia tak ingin menuntut apapun dari klubnya tersebut. Ini menunjukkan bahwa Zidane bermain bola bukan hanya karena uang.

Berita yang tak begitu mengenakkan hati para penggemar Zidane saat ini adalah mengenai rencana kemundurannya dari timnas Perancis. Zidane mengakui bahwa ia akan lebih serius bermain di Liga saja. Seperti biasa, Zidane tak banyak bicara tentang alasan kemundurannya ini.

Tentunya dengan kemunduran Zidane dari timnas ini, para penggemar Zidane akan merasa kehilangan. Sebab, seorang pesepakbola seperti Zidane ini tidak lahir 100 tahun sekali. Ia adalah seorang tokoh yang berpengaruh besar bagi dunia sepakbola.

Image Pele




Tentang Pele


PELE

Edson Arantes do Nascimento, yang oleh dunia dikenal secara luas dengan nama "Pelé", dilahirkan pada tanggal 23 Oktober 1940 di sebuah desa kecil di Brazil yaitu Três Corações yang termasuk dalam wilayah negara bagian Minas Gerais. Ia telah dibaptis di Igreja da Sagrada Familia de Jesus, Maria de José. Ayahnya, João Ramos do Nascimento atau biasa disebut Dondinho, adalah juga pemain profesional yang cukup dikenal di dunia sepakbola. Pada jamannya ia dikenang sebagai salah satu pemain terbaik untuk bola-bola atas. Ia bermain sebagai penyerang tengah untuk klub Fluminense sampai akhirnya ia disergap cidera yang mengakibatkan tak bisa lagi berpartisipasi di dunia sepakbola divisi satu. Karena itu ibunya, Celeste, mengambil-alih tanggung jawab untuk membesarkan Pelé dan suadara-saudaranya dengan penuh cinta kasih. Ketika masih kanak-kanak, Pelé sekeluarga boyongan ke Baurú, bagian tengah São Paulo, dimana ia belajar dari para mahaguru seni sepakbola. Pada suatu hari Pelé mengakui bahwa ia merasa mempunyai 3 ikatan batin yang sama eratnya dengan Três Corações tempat ia dilahirkan, Baurú tempat ia menimba ilmu dan Santos, klub yang membawa namanya bersinar.

Karir Pelé

Pelé mengais uang pertama kali sebagai penyemir sepatu. Namun, cita-citanya sebagai pemain sepakbola tidak pernah sirna.

Ia meniti karir di sepakbola semenjak usia dini. Semula ia bergabung di beberapa tim amatir seperti Baquinho dan Sete Setembro. Menginjak usia 11 tahun, yaitu ketika ia bergabung dengan tim Ameriquinha yang tidak ada pelatihnya, ia ditemukan oleh mantan pemain tim nasional Brazil untuk Piala Dunia yang bernama Waldemar de Brito. Ia menangkap bakat yang luar biasa dari Pelé dan memberikan tawaran untuk bergabung dengan tim yang diasuhnya, yaitu Clube Atlético Baurú?. Menginjak usia 15 pada tahun 1956, de Brito memboyong Pelé ke kota São Paulo dan dicoba bermain untuk klub profesional, Santos Futebol Clube (SFC). Hari itu, de Brito berkata kepada Direktur klub bahwa "anak ini kelak akan menjadi pemain sepakbola terbesar di dunia."

Kiprah Pelé dimulai pada tanggal 7 September 1956 ketika ia menggantikan posisi penyerang tengah Del Vecchio. Secara mengejutkan ia menjebol gawang lawan dengan 6 gol dari 7 gol yang disarangkan timnya dengan posisi akhir 7-1 untuk kemenangan Santos. Pelé mengawali gol emasnya pada menit ke 36 yang bekerjasama dengan 2 penyerang pendukungnya Raimundinho dan Tite. Pelé menerima umpan di daerah kotak penalti dan meskipun ditempel ketat oleh pemain belakang lawan, ia mampu menceploskan si kulit bundar di antara kedua kaki penjaga gawang Zaluar. Zaluar belakangan dikenal secara luas sebagai korban pertama dari keganasan kaki emas Pelé. Perjalanan Pelé dari pertandingan tersebut hingga mencapai puncak kejayaannya dilalui dengan sangat cepat. Dalam pertandingan liga yang pertama kali bersama Santos, ia langsung menggebrak dengan 4 gol. Pada musim kompetisi berikutnya, ia berhasil menempatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di kompetisi liga negara bagian São Paulo dengan 32 gol.

Mimpi buruk bagi Corinthians

Selama 10 tahun Pelé membela bendera Santos, klub Corinthians do Parque de São Jorge tidak pernah mampu mengalahkan Santos. Hasil-hasil pertemuan kedua tim tersebut adalah sebagai berikut:

14 September 1958: 1-0, 1 gol Pelé
7 Desember 1958: 6-1, 4 gol Pelé
30 April 1959: 3-2, 1 gol Pelé
26 Agustus 1959: 3-2, 1 gol Pelé
27 Desember 1959: 4-1, 2 gol Pelé
31 Juli 1960: 1-1, 1 gol Pelé
30 Nopember 1960: 6-1, 1 gol Pelé
3 Desember 1960: 1-1, 0 gol Pelé
23 September 1962: 5-2, 1 gol Pelé
3 Nopember 1962: 2-1, 1 gol Pelé
3 Maret 1963: 2-0, 2 gol Pelé
21 September 1963: 3-1, 3 gol Pelé
14 Desember 1963: 2-2, tidak main
18 Maret 1964: 3-0, 1 gol Pelé
30 September 1964: 1-1, 1 gol Pelé
6 Desember 1964: 7-4, 4 gol Pelé
15 April 1965: 4-4, 4 gol Pelé
29 Agustus 1965: 4-3, 2 gol Pelé
14 Nopember 1965: 4-2, 2 gol Pelé
8 Oktober 1966: 3-0, 0 gol Pelé
17 Desember 1966: 1-1, tidak main
13 Mei 1967: 1-1, 1 gol Pelé
10 September 1967: 2-1, tidak main
10 Desember 1967: 2-1, 1 gol Pelé

Pertama kali Corinthians berhasil menaklukkan Santos setelah periode tersebut adalah pada tanggal 6 Maret 1968 dengan skor 2-0.

Tidak lama berselang setelah Pelé mengikuti musim kompetisi pertama bersama SFC, Sylvio Pirilo, pelatih tim nasional Brazil pada waktu itu, memasukkan Pelé kedalam pasukannya. Ketika berumur 16 tahun pada tanggal 7 Juli 1957, Pelé memperkuat tim nasional Brazil melawan Argentina serta berhasil mencetak satu-satunya gol dengan skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina. Datang menjelang Piala Dunia tahun 1958, dan dunia terperangah dengan kehadiran si Mutiara Hitam ini. Akselerasinya yang mengagumkan serta tembakan yang keras dan terarah benar-benar membangkitkan decak kagum bagi siapapun. Ia cukup dengan melenggang ke lapangan hijau, dan seketika itu gemuruh penonton meledak tiada hentinya mengelu-elukan dirinya. Julukan si Raja diberikan terhadap Pelé oleh pers Perancis pada tahun 1961 semenjak ia memperkuat SFC di beberapa pertandingan di Eropa.

Pelé dan Piala Dunia

Legenda Brasil

Pelé turut ambil bagian dalam 4 kali Piala Dunia: Swedia tahun 1958, Chili tahun 1962, Inggris tahun 1966 dan Meksiko tahun 1970. Ia berhasil membukukan 12 gol dalam 14 kali pertandingan Piala Dunia.

Swedia 1958

Pertama kali Pelé ambil bagian dalam Piala Dunia ini adalah pada pertandingan ketiga, ketika berhadapan dengan Soviet. Ia diterjunkan atas saran dari para official tim kepada Vicente Feola untuk menurunkan Pelé dan Garrincha setelah mereka memenangi dua pertandingan terdahulu melawan Austria dengan 3-0 dan seri 0-0 melawan Inggris. Pada pertandingan pertama tersebut Pelé belum berhasil menjaringkan gol, tetapi tim Brazil berhasil menekuk Soviet dengan skor 2-0 yang dihasilkan oleh Vavá. Di pertandingan berikutnya Pelé membukukan gol satu-satunya bagi tim Brazil. Ketika Brazil berhasil mempecundangi Perancis di semi final dengan skor mencolok 5-2, Pelé melakukan hat trick dengan 3 gol sedangkan Vavá dan Didi masing-masing 1 gol. Di partai final berhadapan dengan Swedia, Pelé menjaringkan 2 gol (lihat videonya disini), demikian pula Vavá 2 gol dan Zagalo 1 gol untuk hasil akhir 5-2.

Chili 1962

Dalam partai pertama yang dimainkan tim Brazil melawan Meksiko, Pelé mencetak satu gol dan Brazil memenangi pertandingan tersebut. Sayangnya, kendati kejuaraan ini termasuk milik Pelé, tetapi ia terpaksa diistirahatkan lebih awal sebagai ujung tombak. Memasuki menit kesepuluh ketika berhadapan dengan Cekoslowakia, otot kakinya tertarik dan ia harus ditarik keluar dari pertandingan ini dan partai-partai berikutnya. Piala yang diraih Brazil kemudian mejadi milik Mané Garrincha, sementara posisi Pelé digantikan oleh Amarildo.

Inggris 1966

Sejak semula, segala sesuatunya terasa serba salah bagi tim Brazil untuk menghadapi kejuaraan ini. Bagaimanapun, 43 pemain akhirnya direkrut untuk memperkuat pasukan Brazil. Namun ketika tim bertolak ke Eropa, dua pemain terbaik mereka yaitu penjaga gawang Valdir dan penyerang Servilio dikeluarkan dari tim. Di pertandingan pertama, Brazil mengalahkan Bulgaria dengan 2-0 hasil dari kaki Pelé 1 gol dan satunya oleh Garrincha. Kemudian Brazil kalah 3-1 melawan Hungaria dan di pertandingan berikutnya melawan Portugis, Pelé terpaksa harus ditarik keluar lapangan karena dua kali cidera oleh pemain-pemain Portugis yang bermain sangat kasar. Pergantian itu dilakukan sebagai peringatan terhadap tim lawan.

Meksiko 1970

Ini adalah kejuaraan yang menganugerahkan Piala Tetap Jules Rimet bagi Brazil. Di pertandingan pertama, Brazil menjungkalkan Cekoslowakia 4-1 melalui 2 gol dari Jairzinho, masing-masing 1 gol oleh Pelé dan Rivelino. Korban berikutnya menyusul Inggris yang ditekuk 1-0 melalui gol Jairzinho. Kemudian Brazil memenangi 3-2 atas Rumania melalui 2 gol dari Pelé dan satu gol dari Jairzinho. Kemengangan berikutnya diraih atas Peru dengan skor 4-2. Brazil melaju ke puncak setelah dalam babak semi final mempecundangi Uruguay dengan skor 3-1. Di partai Final Brazil melibas tim Itali dengan skor telak 4-1 melalui gol-gol dari Pelé (lihat videonya disini), Gérson, Jairzinho, dan Carlos Alberto. Dalam kejuaraan ini, Pelé juga membukukan 3 kali kesempatan emas terbaik dalam sejarah, sehingga membuahkan julukan penyelamatan terbaik bagi penjaga gawang Inggris, Banks, sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia ketika ia menggagalkan sundulan kepala dari Pelé.

Tiga musim kompetisi bersama New York Cosmos

Oleh Pelé dan diambil dari Peles Homepage.

"Ini semua berawal pada tahun 1971 ketika saya masih memperkuat Santos FC bertandang ke Kongston, Jamaica dan saya menerima kunjungan Clive Toye, general manager dari sebuah tim yang baru dibentuk dengan nama Cosmos, Phill Woosman yang belakangan menjadi anggota NASL dan Kurt Lamm, sekjen Federasi Sepabola Amerika Serikat (US Soccer Federation). Mereka ingin tahu apakah saya mau bermain di Amerika untuk tim Cosmos apabila saya sudah gantung sepatu dari Santos. Ketika Prof. Mazzei menerjamahkan maksud mereka, saya bilang: 'Proffessor, katakan bahwa mereka kurang waras! Saya tidak akan bermain untuk tim manapun setelah pensiun dari Santos!'. Tiga tahun kemudian, setelah terakhir kalinya saya membela Santos, Clive Toye menelpon saya dari New York dan mengatakan bahwa Cosmos ingin bicara dengan saya tentang kemungkinan mengontrak saya. Enam bulan berselang sejak pertemuan diadakan serta berbagai pesan, telgram dan telpon ditujukan kepada saya, akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran Warner Communications, pemilik klub New York Cosmos, untuk berkecimpung lagi di dunia profesional selama tiga musim kompetisi.

Kenangan tentang Pelé yang tak terlupakan

Pelé adalah orang yang dapat menggerakkan massa. Di akhir tahun enampuluhan, ketika ia bersama timnya Santos bertandang ke Nigeria untuk memainkan beberapa partandingan persahabatan, perang sipil yang sedang berkobar di negara itu seketika terhenti selama kunjungannya. Ketika ia menjejakkan kaki di Amerika Serikat untuk berbagung dengan New York Cosmos, ia menyedot ribuan penggemar ke stadion hanya karena ingin menyaksikan dirinya. Pelé adalah sebuah idola bagi jutaan orang sampai saat ini. Namanya disebut-sebut di seluruh penjuru dunia dengan berbagai pujian.

Banyak nama-nama terkenal memberikan atribut tentang Pelé, diantaranya sebagai berikut:

"Bagaimana anda mengeja Pelé? H-E-B-A-T."
The Sunday Times, koran London.

"Seandainya Pelé tidak dilahirkan sebagai seorang laki-laki, maka ia akan terlahir sebagai sebuah bola."
Armando Nogueira, jurnalis Brazil.

"Melahirkan 1.000 gol seperti yang Pelé jaringkan tidaklah sesulit melahirkan seorang Pelé."
Carlos Drummond de Andrade, penyair Brazil.

"Setelah gol kelima terjadi, saya ingin memberi hormat kepadanya."
Sigge Parling, pemain belakang Swedia yang menempel Pelé sepanjang pertandingan final Piala Dunia 1958.

"Saya kira: ia toch terbuat dari kulit dan tulang seperti saya. Ternyata saya salah."
Tarciso Burnigch, pemain belakang Italia yang menempel Pelé selama partai final Piala Dunia 1970.

"Wow, man, anda terkenal."
Robert Redford, setelah ia menyaksikan Pelé memberikan lusinan foto dirinya di New York sedangkan ia tidak diminta satu lembarpun.

"Pelé tidak akan punah."
Edson Arantes do Nascimento - Pelé.

Di tahun 1993, Pelé diangkat sebagai anggota Dewan Kehormatan Sepak Bola Amerika Serikat. Setelah Pelé bermain di sebuah stadion di Lima, ibukota Peru, di dinding stadion terpampang papan bertuliskan "Pelé pernah bermain disini." Suatu kali ia bahkan menghetikan perang sipil (lihat di atas) di Nigeria: 48 jam gencatan senjata ditandatangani dengan Biafra sehingga kedua belah pihak dapat menyaksikan pertandaingan eksebisi yang dimainkan oleh Pelé. Ketika ia pamit dari tim nasional pada tanggal 18 Juli 1971, 200.000 orang tumpah ruah di monumen Maracanã, dan ia menghadiahkan kaos bernomor punggungnya yang bersejarah yaitu nomor 10 kepada seorang anak berusia 10 tahun.

Pelé adalah satu-satunya orang yang berhasil memboyong 3 kali Piala Dunia sebagai pemain (1958, 1962 dan 170) dan mencetak 1.281 (atau 1284) gol di 1.363 pertandingan profesional yang barangkali ini merupakan rekor sepanjang masa di dunia sepakbola. Ini adalah rata-rata gol sepanjang masa dengan 0,93 gol tiap pertandingan. Pada tahun 1959 ia mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di liga São Paulo dengan 126 gol dalam satu musim kompetisi. Pada tanggal 21 Nopember 1964, ia mencetak 8 gol dalam satu pertandingan melawan Botafogo dari Rio de Janeiro. Tanggal 19 Nopember 1969 ketika ia mencetak golnya ke-1.000 yang sangat terkenal dari titik penalti di menit ke 34 melawan Vasco da Gama, ia mendedikasikan gol tersebut kepada para anak-anak miskin dan orang-orang jompo yang menderita di Brazil. Pelé juga turut ambil bagian dalam apa yang dikenal dengan "Usia Emas" dari Libertadores Cup dari 1960 sampai1963 dimana Peñarol, kesebelasan dari Uruguay, menjadi langganan bertemu Santos di babak final. Peñarol memenangkan pertandingan pada 1960 dan 1961 sedangkan Santos merebut gelar juara berturut-turut pada 2 tahun berikutnya.

Pelé memberikan inspirasi atas peranan pengatur irama permainan sebagai tipe pemain tengah. Ia selamanya memimpin pemain-pemain hebat Brazil lainnya seperti Vavá, Didi, Garrincha, dan masih banyak lagi. Banyak yang memberikan penilaian bahwa Pelé tetap akan menjadi pemain terbaik seandainya dia ditempatkan pada posisi manapun. Pelé bahkan pernah suatu kali bersikukuh kepada manajer Santos untuk bermain sebagai penjaga gawang. Pada tanggal 19 Januari 1964 ia menggantikan posisi Gilmar, penjaga gawang Santos yang dikeluarkan oleh wasit, dalam babak semi final Piala Brazil. Selama lima menit, setelah menciptakan 3 gol, Pelé menggunakan nomor punggung 1 dan melakukan dua kali penyelamatan yang spektakuler sehingga mengamankan jalan bagi Santos untuk menuju babak final.

Perpisahan dengan Santos

Pelé bermain untuk terakhir kalinya selama 21 menit bersama Santos Futebol Clube dalam suatu pertandingan pada tanggal 3 Oktober 1974, mulai jam 21:08. Santos memenangkan pertandingan melawan Ponte Preta tersebut dengan skor 2-0 melalui gol Cláudio Adão dan gol bunuh diri dari Geraldo. Tetapi pertandingan sempat terhenti bagi para penggemar ketika:

"Aos 21 minutos de jogo, quando Pelé, inesperadamente, pegou a bola com as mãos, ajoelhou-se no meio do gramado e ergueu os braços, a torcida que estava em Vila Belmiro não pôde negar-se a um momento de surpresa. Mas, foi apenas um momento. Logo, ela compreendeu que Pelé estava determinando o final de sua carreira de maior jogador de futebol de todos os tempos."

[Di menit ke 21, ketika Pelé secara tak terduga menangkap bola dengan kedua belah tangannya, kemudian berlutut di tengah lapangan dan mengangkat kedua tangannya, menyebabkan gemuruh di stadion Vila Belmiro seketika menjadi tercengang menyaksikan adegan tersebut. Tetapi hanya berlangsung sejenak. Penonton segera menyadari bahwa Pelé telah memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai pemain sepakbola terbaik sepanjang masa.]

Itu adalah akhir dari karir Pelé membela kostum bergaris kebanggaan Santos. Setelah itu sang kaisar Pelé diboyong oleh New York Cosmos dengan tujuan mempopulerkan olahraga sepakbola di tanah Paman Sam. Dan satu hal yang dapat dilakukan oleh Pelé dengan sempurna, adalah mempopulerkan segala keinginannya dengan kebesarannya, kecerdasannya, dan ketokohannya yang mendunia.

Image Maradona




Tentang Maradona

Legenda Argentina
Sepakbola tidak hanya mengundang fanatisme terhadap klub. Hampir di setiap penjuru dunia, lahir fans klub spesifik untuk pemain. Makanya jangan heran ketika mengetik nama David Beckham, Alessandro del Piero atau Ronaldinho kita akan menemukan tidak hanya satu website khusus pemain yang didesain khusus oleh kelompok fans. Di Bandung, Zaenal Arief selain menjadi pencetak gol, mungkin juga pencetak sejarah sebagai pemain Persib pertama yang memiliki fans klub khusus. Arief layak merasa istimewa, karena fans klub membantunya terus mencetak gol untuk Persib.
Sejarah fans pemain mencatatkan puncaknya ketika segelintir pemuja Diego Armando Maradona mendirikan Gereja Maradona, atau dalam bahasa setempat Iglesia Maradoniana. Kabarnya, kini penganut 'agama' Maradona ini telah mencapai angka 15.000 orang di seluruh dunia. Berawal dari sebuah ide di kota Rosario, 30 Oktober 1998, mereka mengukuhkan ajaran ini. Tanggal tersebut pun tentu dianggap sakral karena merupakan kelahiran sang dewa. Perkembangannya pun menjadi kompleks. Mereka memiliki kitab suci, yaitu buku biografi Maradona, dan '10 Perintah Tuhan' ala mereka sendiri. Salah satu perintah tersebut adalah keharusan untuk mencantumkan nama Diego kepada anak-anak mereka.
Belum lengkap dengan dua perangkat tadi, anggota Persudaraan Diego (Diegorian Brothers) ini juga menganggap mereka yang membantu karir Maradona dianggap sebagai orang suci, dan tentunya kebalikannya bagi mereka yang menghujat karir sang Dewa. Iglesia Maradoniana juga mengenal penanggalan sendiri yang dimulai dari tahun 1960, ketika sang legenda lahir. Jadi, tahun 2007 awal masih masuk dalam 46 AD, After Diego.
Pengkultusan Maradona bukan tanpa sebab. Gol Tangan Tuhan dari Maradona ketika menaklukan Inggris di Piala Dunia 1986, merupakan momen yang dianggap para Diegorian Brothers sebagai hari pentahbisan Maradona menjadi Tuhan, atau dewa. Di Amerika Latin, khususnya Argentina, kemenangan ini memiliki memang memiliki arti yang mendalam. Pertama, Maradona menaklukan Inggris, bangsa yang begitu sombongnya mendeklarasikan diri sebagai asal dari sepakbola. Keangkuhan Inggris ini ditambah panasnya kondisi politik Argentina-Inggris ketika itu. Kedua, Maradona membuktikan bahwa postur tubuh bangsa Amerika Latin yang tidak sebanding dengan Eropa bukan halangan untuk berprestasi. Tubuh mungil Maradona malahan menunjukkan potensi sepakbola yang jauh lebih menarik, tidak sekedar kick and rush ala Inggris . Oya, gol Tangan Tuhan, Hand of God, akhirnya diabadikan menjadi nama kapel tempat ibadah Iglesia Maradoniana.
Nomor punggung 10 milik Maradona-pun dianggap lebih dari sekedar angka belaka. Diego 10's, nomor sepuluh Maradona, jika diutak-atik akan jadi D10S, dios, dalam bahasa Spanyol berarti Tuhan. Terdengar berlebihan memang, ya? Tapi, para penganut Iglesia Maradoniana ini mengaku masih memiliki ketaatan pada agama asli masing-masing. Bagi mereka, agama dengan Tuhan yang asli merupakan bagian dari realitas, sementara Maradona adalah interpretasi dari hati.

Tentang Sriwijaya FC


Sriwijaya Football Club (disingkat Sriwijaya FC) adalah sebuah klub sepak bola yang bermarkas di Palembang. Tim berjuluk Laskar Sriwijaya ini merupakan tim yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan setelah terjadi penjualan opsi kepemilikan dari Persijatim Jakarta Timur[1]. Tim berkostum merah kuning bermotif songket ini memiliki 2 kelompok suporter ( S- Mania, Singa Mania )yang kemudian digabung menjadi Sumselmania.